Ramadhan Karta Hadimadja
Ramadhan Karta Hadimadja (16 Maret 1927 – 16 Maret 2006) adalah seorang penulis biografi Indonesia. Ia meninggal setelah menderita kanker prostat selama ±3 bulan.
Antologi Puisi "Priangan Si Jelita" adalah rangkaian puisi yang ditulis oleh Ramadhan K.H., yang mengangkat tema tentang keindahan dan kompleksitas wilayah
Priangan Si Jelita (1)
Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohon pina,
tembang menggema di dua kaki,
Burangrang – Tangkubanprahu.
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun.
Membelit tangga di tanah merah
dikenal gadis-gadis dari bukit.
Nyanyikan kentang sudah digali,
kenakan kebaya merah ke pewayangan.
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di hati gadis menurun.
Priangan Si Jelita (2)
Harum madu
di mawar merah,
mentari di tengah-tengah.
Berbelit jalan
ke gunung kapur,
antara Bandung dan Cianjur.
Dan mawar merah
gugur lagi,
sisanya bertebaran
di kekeringan hati.
Dan belit jalan
menghilang lagi,
sisanya menyiram
darah di nadi.
Priangan Si Jelita (3)
Kembang tanjung berserakan
di jalan abu menghitam,
ditusuk bintang di timur,
hati luka di pekuburan.
Mau pergi, nak?
— Ya, Ma.
Ke mana?
— Entah, turutkan jejak lama.
Tak singgah dulu, Nak?
— Ya, Ma,
singgah cucurkan air mata.
Kembang tanjung berserakan
dipungut gadis berdendang.
Gede mengungu di pagi hari,
bintang pudar, bulan pudar,
si anak tinggalkan pekuburan,
bersedih hati.
Kembang tanjung berserakan,
dan melayu di tali benang.
Priangan Si Jelita (4)
Berbelit membiru jalan
ke Gede dan Pangrango,
lewat musim penghujan.
Gadis-gadis menyongsong pagi
di pucuk-pucuk teh yang menggeliat,
di katil orang lain menanti.
Berbelit membiru jalan
ke Gede dan Pangrango,
lewat angin dari selatan.
Ujang-ujang menyongsong hari
memikul kentang ubi galian,
dengan belati orang lain menanti.
Berbelit membiru jalan
ke Gede dan Pangrango,
juga penyair dinanti tikaman orang.
Priangan Si Jelita (5)
Hijau tanahku,
hijau Tago,
dijaga gunung-gunung berombak.
Dan mawar merah
disobek di tujuh arah,
dikira orang menyanyi,
lewat di kayu kecapi.
Hijau tanahku,
hijau Tago,
dijaga gunung-gunung berombak.
Dan perawan sendirian,
disamun di tujuh jalan,
dikira orang menyanyi,
tangiskan lagu kinanti.
Hijau tanahku,
hijau Tago,
dijaga gunung-gunung berombak.
Priangan Si Jelita (6)
Seruling berkawan pantun
tangiskan derita orang priangan,
selendang merah, merah darah
menurun di cikapundung.
Bandung, dasar di danau
lari tertumbuk di bukit-bukit.
Seruling menyendiri di tepi-tepi
tangiskan keris hilang di sumur,
melati putih, putih hati,
hilang kekasih dikata gugur.
Bandung, dasar di danau,
derita memantul di kulit-kulit.
Priangan Si Jelita (7)
Setengah bulatan bumi
kusilang arah membusur,
nyatanya
aku hanya pengembara.
Seruling dan pantun
di malam gelap
menyeret pulang
turun di kali Citarum.
Dan aku kembali
ke pangkuan asal.
Bunda,
dan aku kembali
ke pelukan asal.
Kiranya
dengan tambah aku!
Sumber: Priangan Si Jelita (2003)