Puisi-puisi Tragedi Banjir Bandang Sumatera (8)


Tarni Kasanpawiro

INIKAH BENCANA

Ada dan tiadanya manusia
Gunung-gunung tetap melakukan tugasnya
Bencana yang kaukata hanyalah siklus semesta
Juga hujan yang menderas karena cuaca
Menggeser lipatan menjadi gempa

Ada dan tiadanya manusia
Laut akan meluap pada masanya
Matahari akan mendekat jika waktunya tiba
Planet-planet membentuk garis lurus tanpa diminta
Juga gerhana-gerhana yang memukau mata

Ada dan tiadanya manusia
Angin tetap setia akan tugasnya
Datang dari penjuru arah menulis cuaca
Menyapa segala rupa lewat bahasa semesta
Debu-debu, daun kuning dan putik bunga

Ada dan tiadanya manusia
Alam tetap bekerja sesuai tugasnya
Mengapa manusia terus berburuk sangka
Mengatakan tuhan marah tuhan murka
Saling tuding menyalahkan sesama

Ada dan tiadanya manusia
Sungai tetap mengalir menuju muara
Menyatu dengan samudera raya
Seia sekata walau dirinya terluka
Kembalikan keadaan seperti semula

Ada dan tiadanya manusia
Semesta tak akan diam diri saat bahaya
Dia akan melindungi diri dengan caranya
Pertahankan keseimbangan tetap terjaga
Dari kerusakan-kerusakan yang menimpa

Sejatinya ulah manusialah
Semesta rusak sedemikian rupa
Lumpur lapindo adalah bukti nyata
Sungai-sungai yang berubah warna
Hilangnya kerlip bintang di atas sana
Dan polusi udara di kota-kota

Sampai kapankah
Manusia akan sadar dari lupa
Mendamba surga dengan mencipta neraka
Terus mengambil tanpa mau memelihara
Melempar prasangka pada tuhannya
Seolah semua ini adalah salahnya
Cibitung, 09 Desember 2021

**Ahmad Maliki Mashar
**
KETIKA AKU HENDAK BERPIKIR

aku tak lagi dapat berpikir
bahwa negeriku baik-baik saja
ketika hutan belantaranya memuntahkan tuba
dan dari dalam tanahnya menetas telur-telur naga
aku tak lagi dapat berpikir
bahwa negeriku aman-aman saja
bila di dalam hati dan di pikiran anak negeri
tak lagi tertanam cinta kasih sejati
: berpijak di tanah yang sama
menghirup udara serupa
seiras dalam kata
aku tak lagi dapat berpikir
bahwa negeriku kan menggapai emas kejayaannya
saat para pemimpin sudah berniat zholim
dan pembantu-pembantunya bersuka dengan kemaruknya.
Sekara, 16 Desember 2025.

*Malik

KORBAN AMBISI

Di hutan ini selalu di mulai lagi;
tumbuh tunas regenerasi alami
bangkai pohon korban mutilasi keji
kelewat takar, bahkan melebihi ambisi
Di dinding bukit ini selalu di mulai lagi
agregat tanah mengandung komposisi
senilai kekayaan di deteksi, di kalkulasi
dengan sigap serakah di eksplorasi.
Di bilangan waktu sudah terbaca
potensi kemurahan alam luar biasa
penopang hajat hidup sejahtera
dari hulu hingga hilir semesta
Di bilangan musim selalu terpeta
musibah bencana datang melanda
bukan hanya ujian, apalagi azabNya
ini akumulasi ke fasik an hati kita.
Medan, 15 Desember 2025