Puisi-puisi Tragedi Banjir Bandang Sumatera (7)

ASTI MUSMAN

Logika Kopi dan Gorengan

Rakyat jelata
menghibur diri di sudut pagi
secangkir kopi, sepotong gorengan
hangat, murah,
cukup untuk menunda lapar
lupa sebentar pada upah tak berbernalar
Lantas tetiba hujan deras
aliran keras hutan- hutan roboh
anehnya, jari telunjuk menuding meja warung
“Karena kopi,” katanya.
“Karena gorengan,” katanya.
Sungguh logika dangkal
seperti minyak jelantah
yang dipakai berulang
hingga rasa tak lagi jujur
Apakah kayu-kayu gelondongan
yang hanyut kemarin di Sumatra
tak punya nama?
Tak punya surat?
Tak punya tuan?
Bukankah setiap batang
sudah ditandai?
dicap?
dihitung?
diasuransikan?
Ataukah pohon-pohon itu
bangun pagi
lalu menebang dirinya sendiri
demi secangkir kopi rakyat miskin?
Kasihan rakyat
yang tak pernah melihat konsesi
seluas mata memandang
tak pernah mencicip laba bertriliun rupiah
tapi harus menanggung dosa ekologis semata
mereka hanyalah buruh dengan receh- receh di telapak tangan.
Jika hutan hilang
karena kopi dan gorengan
maka kelak
salahkah banjir pada air hujan
salahkan krisis energi pada lampu kamar mandi
salahkan kemiskinan pada rakyat yang berani hidup
Beginilah cara
kambing hitam dipelihara
bukan di kandang
melainkan di warung kopi
di bawah spanduk tanggung jawab
yang tak pernah menyentuh
pintu-pintu korporasi.
Rakyat hanya ingin sarapan.
Tapi yang dijadikan tersangka
selalu mereka
Madiun, 15 Desember 2025

Pantas Pangihutan S

*** Banjir Bandang ***
.
Hutanku hilang
Diterjang hujan badai
Banjir bandang menghajar Sumatera
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan sekitarnya...
.
Ketika berpikir tentang uang dan kerakusan
Maka akal sehat dan moral terkikis habis
Teori ekonomi telah menelan sesamanya
Yang ada hanya kepalsuan dan berpura-pura...
.
Uang telah menjadi dewa agung di hatinya
Orang pintar berubah menjadi monster
Moral dikalahkan oleh ilmu kerakusan ekonomi
Rakyat kecil menderita menanggung bencana!
Kembalikan hutan kita yang telah hilang!!!
.