Puisi-puisi Tragedi Banjir Bandang Sumatera (6)
A.Rahim Eltara
DERU AIR MATA ANDALAS
Di bawah langit yang muram, Andalas terdiam membisu,
Hijau hutan terendam pilu,
Bukan langit menangis,
Bukan hujan yang membawa berkah,
Tapi amuk dendam alam semesta,
Dari hulu yang terluka, dari bukit yang terkikis,
Dari batang-batang kayu yang terkuliti,
Mengalir murka, menumpahkan amarah.
Andalas menggigil dalam genangan air mata,
Dalam lumpur yang pekat, tertanam kenangan,
Harta, tawa, dan cinta terampas seketika,
Rumah-rumah sunyi, hanya atap yang terapung menjadi pelampung,
Jejak tawa dan riang anak-anak hilang dalam genangan.
Membawa kisah duka, merobek panji, mendustai janji-janji.
Sungai-sungai perkasa, menepuk dada, menjadi pemangsa,
Merenggut napas, mencekik asa,
Wajah-wajah letih tak mampu lagi melawan,
Tangan-tangan kecil tak kuat lagi menggenggam cinta,
Ratapan ibu-ibu di atas onggok gelondongan,
Mencari tangis si bungsu,
Mereka kehilangan mimpi dan empati.
Mereka butuh bukan sekadar iba yang sesaat,
Bukan mie instan, air mineral, dan selimut,
Mereka membutuhkan uluran kasih sayang dan pengakuan,
Sebagai anak kandung ibu pertiwi.
Dengarkan suara yang tercekat, Andalas memanggil:
"Ibu, luka ini sangat perih,
Jangan biarkan kami terkapar sendiri,
Sebab yang hilang bukan hanya sekadar tanah dan harta,
Namun keyakinan pada hari esok yang damai dan merdeka di pangkuanmu."
Sbw, 12/12/2025
DERU AIR MATA ANDALAS
A.Rahim Eltara
Di bawah langit yang muram, Andalas terdiam membisu,
Hijau hutan terendam pilu,
Bukan langit menangis,
Bukan hujan yang membawa berkah,
Tapi amuk dendam alam semesta,
Dari hulu yang terluka, dari bukit yang terkikis,
Dari batang-batang kayu yang terkuliti,
Mengalir murka, menumpahkan amarah.
Andalas menggigil dalam genangan air mata,
Dalam lumpur yang pekat, tertanam kenangan,
Harta, tawa, dan cinta terampas seketika,
Rumah-rumah sunyi, hanya atap yang terapung menjadi pelampung,
Jejak tawa dan riang anak-anak hilang dalam genangan.
Membawa kisah duka, merobek panji, mendustai janji-janji.
Sungai-sungai perkasa, menepuk dada, menjadi pemangsa,
Merenggut napas, mencekik asa,
Wajah-wajah letih tak mampu lagi melawan,
Tangan-tangan kecil tak kuat lagi menggenggam cinta,
Ratapan ibu-ibu di atas onggok gelondongan,
Mencari tangis si bungsu,
Mereka kehilangan mimpi dan empati.
Mereka butuh bukan sekadar iba yang sesaat,
Bukan mie instan, air mineral, dan selimut,
Mereka membutuhkan uluran kasih sayang dan pengakuan,
Sebagai anak kandung ibu pertiwi.
Dengarkan suara yang tercekat, Andalas memanggil:
"Ibu, luka ini sangat perih,
Jangan biarkan kami terkapar sendiri,
Sebab yang hilang bukan hanya sekadar tanah dan harta,
Namun keyakinan pada hari esok yang damai dan merdeka di pangkuanmu."
Sbw, 12/12/2025
DERU AIR MATA ANDALAS
A.Rahim Eltara
Di bawah langit yang muram, Andalas terdiam membisu,
Hijau hutan terendam pilu,
Bukan langit menangis,
Bukan hujan yang membawa berkah,
Tapi amuk dendam alam semesta,
Dari hulu yang terluka, dari bukit yang terkikis,
Dari batang-batang kayu yang terkuliti,
Mengalir murka, menumpahkan amarah.
Andalas menggigil dalam genangan air mata,
Dalam lumpur yang pekat, tertanam kenangan,
Harta, tawa, dan cinta terampas seketika,
Rumah-rumah sunyi, hanya atap yang terapung menjadi pelampung,
Jejak tawa dan riang anak-anak hilang dalam genangan.
Membawa kisah duka, merobek panji, mendustai janji-janji.
Sungai-sungai perkasa, menepuk dada, menjadi pemangsa,
Merenggut napas, mencekik asa,
Wajah-wajah letih tak mampu lagi melawan,
Tangan-tangan kecil tak kuat lagi menggenggam cinta,
Ratapan ibu-ibu di atas onggok gelondongan,
Mencari tangis si bungsu,
Mereka kehilangan mimpi dan empati.
Mereka butuh bukan sekadar iba yang sesaat,
Bukan mie instan, air mineral, dan selimut,
Mereka membutuhkan uluran kasih sayang dan pengakuan,
Sebagai anak kandung ibu pertiwi.
Dengarkan suara yang tercekat, Andalas memanggil:
"Ibu, luka ini sangat perih,
Jangan biarkan kami terkapar sendiri,
Sebab yang hilang bukan hanya sekadar tanah dan harta,
Namun keyakinan pada hari esok yang damai dan merdeka di pangkuanmu."
Sbw, 12/12/2025
Puspasari
Pray For Sumatera.
Sumatera engkau adalah pulau yang indah , hamparan hijau hutan nan luas
Maha karya Sang Pencipta
Di Sumatera, manusia berbaur dengan satwa dan hidup berdampingan dengan harmoni yang indah
Harimau Sumatra adalah satwa yang gagah
Gajah Sumatera adalah satwa yang pandai
Pohon- pohon yang menjulang tinggi di hutan adalah kebanggan Indonesia
Dan menjadi rumah yang nyaman bagi semua satwa
Namun dalam sekejap semua musnah
Banjir , banjir bandang dan tanah longsor
Menghantui hati dan pikiran warga
Korban berjatuhan, air mata menganak sungai
Namun itu belum cukup untuk membuat alam menghentikan kemurkaan nya
Mari kita renungkan
Salah siapa ketika pembalakan liar meraja Lela
Salah siapa yang memberi kan ijin tambang- tambang yang menggerus bumi
Membuat bumi menangis
Kayu - kayu gelondongan menjadi pencetak uang bagi para pecundang liar
Tanpa peduli akibatnya yang akan melanda
Karena bagi mereka yang penting perut dia dan kroninya kenyang
Kini tak ada gunanya lagi menyesali semua
Bencana sudah terjadi
Pejabat harus introspeksi
Dan membabat para perusak alam , membawa mereka untuk membusuk di penjara
Namun hatiku bertanya , mungkin kah pejabat itu punya keberanian
Sementara yang menjadi becking lebih berkantong tebal
Yah...
Kita hanya bisa berdoa
Semoga bencana segera reda
Menghapus air mata dan memulai jalani hidup dengan hati bahagia
Semoga...
Sawangan Depok, 2 Desember 2025
I. Made Suantha
SIHIR HUTAN
(Air bah itu tak tercatat dan tibatiba menerjang seperti telah terencana )
Di dalam hujan jiwa ini terperangkap. Berapa dalam luka mengangakan kesedihan ini.
Dan kita menakar berapa dalamkah perih dari setetes airmata itu?
Menggambar hutan dengan warna perihan airmata. Dan hujan menghanyutkannya.
Mewarnai hutan dengan tumbangan pepohonan. Dan setetes air mengalirkannya sekaligus meluluhlantakkan kampung.
Pohonpohon tanpa akar di gergaji dengan rasa tak berluka.
Dan kita menyaksikan semuanya dengan deraian airmata.
:Laknat itu tersenyum, pohonpohon itu lapuk dengsn sendirinya dan angin menumbangkannya.
Laknat itupun memberitakan, duka ini sesungguhnya tidak sedahsyat dengan warta derita.
Sihir hutan membentuk gunung dengan terracota tebing, lalu hujan turun. Dan, bah menandai nestapa.
Kemudian di antara kita ada yang datang dengan mencitra tanpa bayangan.Terlalu munafik untuk dibasabasikan.
Sampai terlalu naif untuk ditafsirkan.
Sihir hutan sihir margasatwa
Siapa yang terlalu laknat itu untuk dikatakan sebagai manusia!
Masihkah airmata ini mengandung derita?
Desember, 2025
STHIRAPRANA DUARSA
PAKET DARI SUMATERA
Suara ketukan di pintu terus menerus terdengar
Semakin lama semakin nyaring
Seekor cecak mengangkat lehernya; apakah yang ia dengar?
Apakah hanya rintik hujan yang bertiup
atau angin yang menggusur daun-daun kering dari rantingnya?
Pintu kubuka
Kurir menumpahkan air mata dari musim yang beringas
Hari-hari terkoyak tumbukan kayu gelondong
Aku tak pernah memesan
Tapi mengapa paket ini datang?
Kurir itu tersenyum dingin
Seolah mengancam akan mengirimkan air mata yang lebih banyak
“Jangan pura-pura tidak tahu. Ini pesanan yang telah dibuat dari keserakahan manusia”
November yang kelabu membawa kabut melintasi hutan-hutan yang gundul
Jiwaku begitu takut untuk menyadari kehancuran yang terstruktur