Puisi-puisi Tragedi Banjir Bandang Sumatera (4)
Suriar Amazi
DARI RERUNTUHAN, KAMI MENYEBUTMU: HARAPAN
Di pintu rumah sakit yang runtuh, waktu seperti berhenti berdenyut,
bencana datang sebagai pelancong kejam tanpa permisi,
akibat banjir lumpur, halaman menjadi danau kelabu,
mengaburkan batas antara derita dan ketabahan manusia.
Obat-obat di rumah sakit terkubur lumpur,
seakan melambangkan doa yang tak sempat menolong,
di rak-rak yang berserakan - hancur, sunyi menua perlahan,
menghadirkan elegi pada setiap serpihan kaca.
Pasien-pasien tak bisa berobat, hanya berpelukan dengan dingin,
menyandarkan diri pada ketidakpastian yang panjang,
sementara dokter dan perawat bersedih hati,
merekam getir lewat pandang penuh gurat kelelahan.
Tetapi tugas kemanusiaan memanggil,
seperti seruan dari langit yang menguji keberanian,
mereka melangkah di antara arus lumpur,
menjadikan tubuh mereka jembatan sementara bagi yang tersakiti.
Maka mereka tetap sigap memberi pertolongan,
bahkan ketika malam menutup mata dunia,
di balik puing-puing itu tumbuh seutas cahaya,
yakni cinta yang bertahan meski dunia seakan tak berpihak.
Semada, Alalak-Barito Kuala
Ahad, 07 Desember 2025/16 Jumadilakhir 1447
10.46 wita.
Hj ROSMITA
Gelondongan yang Mencekam
di Malam November
Malam November turun tanpa suara,
menyelinap seperti luka lama
yang tiba-tiba menguak kembali.
Sungai menggigil mendekap sunyi,
dari pusaran arus yang resah
muncul gelondongan
yang membawa resah dan bencana,
membelah air menjadi lautan air mata,
diiringi angin yang menahan napas
seakan alam sedang berbisik,
“Begini jadinya jika janji tak pernah ditepati.”
Gerombolan gelondongan itu berputar,
menghantam dinding malam,
ada getir, ada perih luka lara beraduk aduk menjadi perih yang mendalam,
orang-orang terperanjat di kegelapan malam
Anak kecil memeluk erat raga ibunya dalam tangis yang cukup perih.
dengan satu pertanyaan yang terpendam:
“Siapa yang menebang akar kami?”
Gelondongan itu berguling menggelinding menghantam dengan kejam tanpa henti,
semua hanyut dari hutan-hutan persembunyian para ambisi
digunduli oleh tangan-tangan
serakah
yang seharusnya menjaga,
tapi sibuk merapikan barisan pencitraan.
Alam yang dulu rimbun
diambil sepotong demi sepotong,
daunnya dijual,
akar-akarnya dibongkar dan dijarah
dan ketika banjir datang
bisanya akal mereka berucap
“musibah alam”
seakan dia tak pernah berdosa
seolah tak pernah ikut merobohkan tiang-tiang bumi.
Air malam November semakin dalam,
menghempas di tanah yang dulu selalu subur,
menggoyang dan memporak-porandakan rumah-rumah mungil dengan penghuni yang tiada berdosa
lalu bertahan dengan kekuatan
doa dan air mata
“Ya Allah…
jika ini adalah teguran dari-Mu,
kami terima dengan tabah .
Namun jika ini akibat kelalaian mereka,
Engkaulah yang paling adil
dalam menghitung apa yang disembunyikan mereka .”
Gelondongan itu terus hanyut,
meninggalkan jejak luka paling aduh .
Setelah banjir berlalu,
rakyat kembali memungut
sisa hidup yang terbawa arus,
sementara di gedung megah itu
mereka membaca pidato
dengan suara datar,
tanpa sedikitpun melihat luka yang berserakan
Air mata November bersimbah dengan kehilangan segalanya .
Kami menyapu lumpur,
mengangkat kayu-kayu berat
yang bukan milik kami,
mengubur dalam-dalam mimpi kami
yang belum sempat tumbuh.
Sementara mereka
sibuk menyusun alasan,
menulis laporan yang dimaniskan,
menutupi kata “lalai”
menjadi kalimat “itukan pohon yang sudah tua tumbang”.
Oh, alangkah jahatnya kalian
“Ya Rabb,
kuatkan kami menghadapi musibah ini,
dan kepada mereka yang lupa akan amanah,
berikan mereka kesadaran sebelum terlambat.
Sebab Engkau Maha tahu
siapa yang bekerja,
dan siapa yang hanya bicara.”
Angin November mengusap lirih,
seakan ikut berduka, seakan tahu
rakyat kecil yang selalu,
menjadi korban keserakahan
dan disalahkan.
Padahal gelondongan
yang datang dari perut sungai itu,
adalah murni kelalaian manusia
yang seharusnya menjaga
namun memilih berpaling,
Rabbku
Ampunilah kami yang hanya menjadi korban keserakahan mereka
Jambi 2025
Marlin Dinamikanto
SONETA RAJA HUTAN
aku raja hutan
tidak bertahta di hutan
semua kayu kalian tebang
hingga banjir bandang
datang menggenang
lama aku terkucil
di sela-sela pohon berbaris
mereka punya bedil
aku hanya binatang berkumis
diam di bebatuan kerdil
kini aku dan kalian
sama-sama mengungsi
setelah semua keserakahan
tak lagi bisa dibasmi
Pegangsaan, 11 Desember 2025