Puisi-puisi Tragedi Banjir Bandang Sumatera (2)

Yohanes Moeljadi Pranata

LELAKI ITU

Air bah menggerakkan kayu gelondongan itu perlahan, seperti buaian yang kasar. Lelaki itu terbaring di atasnya, tubuhnya lemas tak berdaya. Lumpur mengering di wajahnya, menempel bersama garis-garis darah yang sudah mulai menghitam. Bibirnya pecah. Matanya setengah terbuka, berembun. Nafasnya tipis, pendek, seperti udara enggan kembali masuk ke dadanya.
Di sekitar, dunia hancur
balok-balok rumah berputar dalam pusaran cokelat, suara gemuruh air bertabrakan dengan jerit-jerit yang memudar di kejauhan. Cabang-cabang besar menghantam satu sama lain seperti tulang yang patah. Udara penuh bau tanah, kayu basah, dan kematian.
Tapi dekat wajah lelaki itu…
ada keheningan kecil.
Seperti ruang yang dijaga tangan Tuhan sendiri.
Kepalanya miring sedikit, menempel pada kayu. Kelopak matanya bergetar, dan dari ujung matanya, mengalir satu garis air-bukan air banjir, tapi air mata terakhir. Tidak banyak. Hanya setitik yang jatuh ke pipinya, bercampur dengan lumpur yang retak–retak.
Lalu, perlahan-lahan…
bibirnya tersenyum.
Senyum itu begitu lembut.
Senyum seseorang yang sudah melihat sesuatu yang kita tidak lihat.
Senyum orang yang tidak lagi melawan rasa sakit.
Senyum seseorang yang baru saja disentuh kedamaian.
Tangannya yang koyak oleh serpihan kayu terkulai di samping tubuhnya. Dadanya terangkat sekali-pelan, sangat pelan - seperti hembusan terakhir sebuah doa yang tak terucap.
Di matanya tidak ada lagi panik.
Tidak ada lagi kehilangan rumah kecil bersama anak dan isterinya
Tidak ada lagi suara banjir bandang yang mengamuk.
Di pandangannya hanya ada cahaya -
cahaya yang membuat seluruh luka seolah tak berarti.
Ia tersenyum…
seperti lelaki yang akhirnya bisa pulang,
bukan ke rumah yang hanyut,
melainkan ke pelukan yang sudah menunggunya sejak awal.
Dan pada senyuman itu,
seluruh kengerian di sekelilingnya kehilangan kuasanya.
Yang tersisa hanyalah keteduhan,
dan seorang lelaki yang akhirnya beristirahat.
YMP

Malik

**SURAT TERBUKA DARI TETUA POHON HUTAN **

ribuan tahun yang lalu;
nenek moyang kalian pernah menyembah
kami memberi sesajen dan meminta tuah
pada kami, yang kalian yakini sebagai penguasa di alam semesta raya ini.
kalian minum dari tetesan akar kami
kalian membangun perlindungan dari tubuh kami kalian makan dari buah buah yang kami hidangkan dengan ikhlas pada kalian.
selama ribuan tahun nenek moyang kalian mematuhi pernjanjian sakral ini
selama ribuan tahun pula kami melindungi kalian dari segala marabahaya dan ancaman.
meski sekarang kalian tidak lagi menyembah kami dan tidak banyak lagi yang memberi sesaji kepada kami.
kami mendengar dan melihat betapa kaum berkaki sudah banyak yang kalian zalimi mereka semua mengadu kepada kami semakin jauh dari harmoni yang dulu pernah nenek moyang kita sepakati
entah apa yang merasuki pikiran kalian
kalian generasi manusia yang melanggar perjanjian sakral yang sudah ribuan tahun lamanya selaras seirama sepadan seumpama berjiran bertetangga sekian lama nya kami masih bersabar meski sudah sangat terluka.
kami terikat fitrah dengan Sang Maha seperti juga kalian.
oleh sebab itu kami mahkluk yang turut perintah tidak pernah membangkang apa lagi durhaka seperti yang kalian lakukan sekarang terhadap kami. kami bersabar hanya karena belum ada titah pada kami
meskipun penderita kami sudah tidak terperi lagi.
pada akhirnya Sang Maha memberi paham pada kita semua, dan kalian harus menanggung semua beban dosa ini.
Dia memerintah air mahluk paling tua dan paling suci diantara kita semua makhlukNya. untuk membersihkan dan mensucikan kembali bumi makhluk yang paling menderita dari tragedi ini.
kami tetap memegang menjaga dan mematuhi titah perintah yang di amanah kan pada kami. semua tergantung kalian apakah? akan tetap durhaka atau mengambil iktibar dan mulai membangun kembali harmoni yang pernah terluka untuk mencapai simbiosis yang selama ribuan tahun lamanya itu kembali ke porsinya masing-masing.
Sekarang, mungkin kita adalah generasi terakhir yang masih bertahan. sebelum semesta raya ini di kiamat kan.
untuk itu kami tetap pada porsi kami dan kami dapat memulihkan diri kami sendiri jika kalian tidak lagi menurutkan ambisi dan memperluas kerusakan di punggung bumi ini.
jadi kalian yang di beri mandat penuh sebagai Khalifah di muka bumi ini mohon jangan lupakan bahwa bukan hanya kalian mahluk di semesta raya ini bahwa ada banyak mahluk yang mungkin belum kalian kenali dengan baik atau malah tidak kalian kenali sama sekali.
dan semua mahluk itu turut perintah tidak pernah membangkang apalagi durhaka seperti kalian sekarang ini. ingat kami hanyalah pasak pasak kecil diantara punggung gunung di sela rongga bumi mahluk mahluk yang taat pada perintah sama seperti kalian dan Air adalah mahluk paling tua diantara kita maka perlakukan dia dengan semestinya.
apa kalian sadar bahwa angin dan api dua makluk lainnya sudah tidak sabar menunggu titah perintah.
Waullahualam bisyawab
Medan, 07 Desember 2025

Iwan Setiawan

NEGERI JENAKA

Di negeri jenaka, banjir bukan bencana
hanya cara alam menertawakan siapa yang pura-pura sibuk
mengurus hal-hal yang tak pernah diurus.
Air datang seperti pesan terselip
dari langit yang kelelahan:
“Maaf, aku tak sengaja membuka rahasia kalian.”
Lalu seluruh kota menjadi sebuah cermin retak
yang memantulkan wajah-wajah
yang tak ingin berkaca.
Jalan berubah sungai,
sungai berubah tempat sampah,
dan tempat sampah berubah
menjadi monumen nasional kesembronoan.
Semua saling menyalahkan,
kecuali kesalahan itu sendiri
yang tetap berenang tenang
di permukaan.
Di perkampungan,
air mengangkat ranjang, kitab doa, dan foto keluarga
seperti ingin bertanya:
“Mana yang kalian anggap penting?
Yang kalian simpan di kepala,
atau yang kalian biarkan hilang
di bawah meja anggaran?”
Sementara itu, pejabat muncul
dengan jas hujan semirip mungkin warna harapan,
tersenyum ambigu
senyum yang bisa berarti kepedulian,
atau sekadar latihan wajah
untuk tahun depan.
Banjir melipat kota seperti surat cinta gagal kirim,
dan kita membaca ulang reruntuhan halaman-halamannya
dengan hati separuh perih, separuh pasrah,
karena rupanya negeri ini pandai sekali
mengubah tragedi
menjadi lelucon yang kita tertawa
agar tidak menangis.
Di negeri jenaka,
air surut jauh lebih cepat
daripada ingatan penguasa.
Yang tertinggal hanya aroma ambigu di udara:
apakah ini bau lumpur,
atau bau kebenaran
Yang lama tak dibuka