Puisi Nelayan Pantura, A. Rahim Eltara
A.Rahim Eltara
KIDUNG PENAKLUK PANTURA
Sampan berayun-ayun di ranting angin. Memerdekakan
diri dari kekejaman ombak. Melaju menuju laut lepas.
Mencari kehidupan di bawah sengatan matahari.
Tempat jala-jala dilemparkan, dengan mantra-mantra
warisan leluhur. Dengan tradisi ngelangi,
berenang tak takut maut.
Kami harus melaut. Perempuan-perempuan
menunggu tungku dan berdoa. Di pantura
laut mengamuk, tapi kami harus menakluk.
Karena laut adalah lahan tempat bertahan. Ombak adalah
teman akrab sepanjang malam. Di sinilah
kami menjala kehidupan, dengan tradisi slurup
menyelam di bawah geliat arus.
Bayangan wajah anak dan istri
dalam doa cemas. Di bawah temaram lampu teplok
Berharap laut menyurut
Berharap badai melandai,
agar kami pulang selamat ke alamat.
Di tengah tiupan angin yang dingin
kami berselimut semangat dengan tradisi leluhur
Krukupan sarung. Simbol harapan
para nelayan. Untuk mengubah
cemas menjadi senyum di bibir anak dan istri
Kehangatan cinta pun terukir.
Sumbawa, 2025
A.Rahim Eltara, lahir di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat 16 Oktober 1962. Belajar menulis secara otodidak sejak tahun 1979. Aktif menulis di beberapa komunitas Nasional dan Asean. Telah menerbitkan 4 antologi tunggal dan 103 antologi bersama. Peraih Pemenang Puisi Pilihan dalam Gerakan Aksi Akbar 1000 Guru se-Asean. Peringkat kedua Nasional Cipta Puisi Hyang Pustaka, Peringkat kedua Nasional Cipta Puisi Makan Bergizi Gratis. Antologi tunggalnya Ibu Doa dan Cinta terpilih sebagai Buku Sastra Nasional Yang Tak Terlewatkan Tahun 2024 versi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.