Puisi Mencatat Sejarah

Puisi Mencatat Sejarah

Jika Anda baca puisi-puisi Chairil Anwar,Taufiq Ismail atau Rendra ditemukan puisi-puisi yang lahir sebagai catatan sejarah. Bahasa penyair mengabarkan situasi saat itu dengan puisi tercermin dari sajak-sajaknya. Judulnya kadang memberi garis bawah bahwa ada peristiwa saat itu. Sajak Karawang Bekasi karya Chairil Anwar memberi catatan tersendiri peristiwa perjuangan kemerdekaan Indonesia. "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia". karya Taufiq ismail menggambarkan kritik kondisi sosial melawan rezim saat itu. Sedang WS Rendra seperti "Puisi Pertemuan Mahasiswa" / "Sajak Pertemuan Mahasiswa", "Sajak Orang Lapar", "Aku Tulis Pamplet Ini" dan lain-lain merupakan kritik keras terhadap pemerintah orde baru di bawah Soeharto.
Demikian puisi menjadi catatan sejarah yang tridak bisa direkayasa atau diputarbalikan sebagaimana kini sejarah diotak-atik oleh penguasa. Puisi memiliki cara tersendiri sebagai dokumen yang dikunci oleh penyairnya untuk tidak bisa dirubah!
Lalu penyair-penyair angkatan "Pasca 66" (demikian Lumbung Puisi menyebutnya) untuk menyebut masa reformasi 98 oleh penyair yang menulis tahun 1980-2000 banyak ditemukan puisi-puiai yang mencatat sejarah kala itu.
Disamping peristiwa-peristiwa politik terdapat juga catatan puisi puisi tentang sosial, seperti penderitaan rakyat akibat bencana alam. Tragedi Lumpur Lapindo telah banyak ditulis dalam puisi oleh beberapa penyair kita jua ada yang telah berbentuk antologi. Begitu juga Lumbung Puisi telah membuat antologi bersama yang mencatat sejarah seperti " Kita Dijajah Lagi" dsb. Kini kembali penyair-penyair kita menulis catatan tentang banjir bandang di Sumatera yang banyak mengsengsarakan rakyat.
(rg bagus warsono)