Panjat Pinang Kita Bukan Lomba Wandi Julhandi (001)

**Wandi Julhandi **

**Panjat Pinang Kita Bukan Lomba **

Bukan sekadar batang licin yang digosok oli,
bukan sekadar hadiah di puncak: kompor, sepeda, sembako.
Hari ini kita panjat lagi.
Tapi bukan untuk hadiah.
Kita panjat karena tanah di bawah kaki sudah terlalu lama becek,
karena harga beras naik lebih cepat daripada gaji,
karena sekolah anak harus bayar, tetapi jalan di depan rumah masih berlubang.
Lihat!
Yang di bawah berdesakan, bahu menahan bahu.
Yang di atas saling injak demi sampai lebih dahulu.
Itu bukan kita.
Itu cermin.
Rakyat menggugat bukan dengan teriak.
Rakyat menggugat dengan keringat yang menetes di batang pinang,
dengan tangan kapalan yang tetap meraih,
meski licin, meski jatuh, meski disoraki.
Kami bukan penonton upacara.
Kami yang tiap pagi berdiri di antrean.
Kami yang disuruh "sabar",
sementara piring di dapur makin kosong.
Hari ini bendera Merah Putih naik,
tetapi kami juga ingin bertanya:
Kapan keadilan ikut naik?
Kapan janji-janji tidak hanya berkibar lalu turun lagi?
Panjat pinang ini hadiahnya kecil,
tetapi semangatnya besar.
Karena di setiap jatuh dan bangun,
kami belajar satu hal:
Kalau tidak bergotong royong, tidak akan ada yang sampai ke puncak.
Jadi biarlah batang itu licin.
Biarlah banyak yang tertawa melihat kami jatuh.
Kami tetap akan naik,
bukan untuk merebut kompor,
tetapi untuk mengingatkan
bahwa negeri ini milik yang berani memanjat,
bukan milik yang hanya duduk memberi perintah dari bawah.
Agustus ini
kami tidak hanya merayakan kemerdekaan,
kami menagihnya.
Turunkan hadiahnya,
tetapi juga turunkan harga.
Turunkan bantuannya,
tetapi juga turunkan arogansi.
Karena panjat pinang yang sesungguhnya
adalah saat rakyat dan pemimpin
sama-sama memanjat
ke arah yang sama:
Indonesia yang merdeka, lahir dan batin.

Makassar, 6 Agustus 2026

*Julhandi/Wandi kelahiran Makassar 16-1-1987 Seni bagiku adalah kehidupan dalam setetes sejarah. Karya tulis adalah obat jikalau merangkai dengan hati akan menjadi rangkaian kata yang indah. Namun jikalau mengukir dalam kegelapan, akan menjadi penyakit, untuk diri dan orang lain. *