Panjat Pinang di Atas Tanah Leluhur Ujang Saepudin (017)

Ujang Saepudin

Panjat Pinang di Atas Tanah Leluhur

Berdiri kami
di bawah tiang licin penuh oli
bukan untuk hadiah
yang telah lama menggantung nasib
tapi, untuk melarungkan sehimpun tanya
yang telah lama mengakar di tanah leluhur
Mengapa puncak selalu jauh
mengapa tangan kami harus saling injak
demi selembar bendera dan sekantung gula
Mengapa?
tertawa di bawah riuh sorak
sedang keringat kami bercampur tilas tapak perjuangan
tak masuk hitungan
yang di atas bersorak menonton
sedang yang di bawah bahu-membahu rebah meraih janji tak bertepi
Panjatlah! Teriak mereka.
siapa yang melumuri tiang ini begitu licin
siapa yang menggantungkan hadiah di puncak
dan mengatakan: keadilan
dengan suara remang
Kami penonton yang lelah
berjibaku jadi penentu arah
turunkan pinang itu!
turunkan pinang itu!
jangan suruh kami memanjat di atas punggung saudara kami
Adakah kemerdekaan
bukan soal siapa
yang paling cepat sampai ke puncak,
adakah kemerdekaan itu, saudaraku?
tapi, semua dapat berdiri di tapak tilas tanah leluhur ini
tanpa harus terpeleset oli
Cianjur, 7 Agustus 2026

Ujang Saepudin, penyair asal Cianjur beraktifitas sebagai pendidik dan petani. Beberapa puisinya pernah dimuat di koran cetak maupun media digital; Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Republika, Radar Kediri, Balipolitika, Kurungbuka, Riau post, dan beberapa puisi lainnya terhimpun dalam beberapa antologi bersama; karyanya masuk 30 besar Payakumbuh Poetry Festival 2022, dan terakhir puisinya masuk antologi Ramu-Ramu Warteg yang digagas DKKT Tegal.