PAK BAYAN GUGAT Christya Dewi Eka (047)

Christya Dewi Eka

PAK BAYAN GUGAT

1/ Makan Gratis
Pagi: makan meja kosong,
siang: mengunyah batu-batu hangat,
malam: menyeruput mimpi surga,
seharian kenyang memandangi cakrawala
Yang paling lapar, yang paling bawah,
berliur melihat hadiah sedap yang
lenggak-lenggok dicolek angin,
di atas pinang
Selagi gratis, penuhi perut hingga buncit,
sebelum dipanen pada masanya,
kamilah hidangan utama,
di pesta para dermawan,
2/ Gaji yang Kerdil
Harga setinggi matahari tengah hari,
isi dompet sekosong kepala keledai
Seharusnya:
tagihan melemah seperti rupiah masa inflasi,
isi dompet segemuk kambing domba jelang kurban
Tahun ini tidak ada panjat pinang,
panitia agustusan tidak tega membeli oli pelicin lomba,
untuk menjatuhkan dan menertawakan
sesama rakyat
3/ Gedung Rakyat
Kupinta, tidak ada yang mendengar,
kucari, tidak menemukan suaraku sendiri,
kuketuk, pintu tidak dibukakan
“Pak Bayan, belilah tiket masuk!”
Sial!
gedung ini tidak kenal aku,
padahal
aku juga rakyat
Bersama rakyat yang sekarat,
menggugat pejabat wakil rakyat,
sebagai ganti lomba panjat pinang,
kami memanjat pagar-tembok gedung rakyat
4/ Ijazah Seorang Sarjana
Mana ilmumu, tuan?
di malam gelap yang diterangi neon box,
di dalam tinta yang meresap pada kertas tagihan, atau
di dalam dada dan kepala yang tunduk membaca berita viral?
Langit menguji kebijaksanaan,
bumi menilai kemanusiaan,
seberapa berat pengetahuanmu untuk
menakar sebuah jabatan
dan segumpal otak?
Sarjana-sarjana memasang badan membuat tangga,
saling menginjak ke puncak pinang,
meski berpredikat cumlaude,
sekolah tidak mengajarkan cara memanjat yang baik,
dan lapang memandang ke bawah
5/ Kentut Seorang Menteri
Di majelis permusyawaratan,
udara bergetar dari celah onggokan daging,
yang duduk santun,
keanggunan jatuh mendadak,
itu bunyi lebih jujur dari kebijakan negara,
cukup satu kentut,
semua jabatan setara sebagai manusia
Tapi,
peserta panjat pinang,
terpaksa memikul beban dan malu,
harus kuat menahan kentut,
hingga meraih hadiah utama,
dan lomba selesai

Semarang, 2026

**Christya Dewi Eka ***adalah lulusan Universitas Diponegoro Jurusan Sastra Indonesia, yang tinggal di Semarang. Ia menulis puisi dan cerpen; karyanya pernah dimuat di sejumlah media cetak dan daring, antara lain Jawa Pos, Kompas, Kalam, Republika, Suara Merdeka, dan Tempo. Ia juga pernah meraih juara dalam berbagai lomba cipta puisi dan cerpen yang diselenggarakan Payakumbuh Poetry Festival, Sekacil, SIP Publishing, Negeri Kertas, Yayasan Hari Puisi, dan sejumlah penyelenggara lainnya. Dalam kegiatan kesastraan, ia terlibat dalam komunitas Kede Sastra, Penyair Berkarya (PB), dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). *