NOMO KOESWOYO oleh Harry Tjahjono
**NOMO KOESWOYO **
(21 Januari 1938 - 15 Maret 2023)
PERSAHABATAN adalah garis halus yang menghubungkan hati tanpa banyak syarat. Begitu pula persahabatan saya dengan Mas Nomo Koeswoyo. Ia bukan sekadar seorang musisi legendaris, melainkan seorang pribadi yang hangat, ringan hati, dan penuh kemurahan. Saya merasakannya dalam momen sederhana namun membekas—saat ia menghadiahkan sepeda motor mini untuk anak saya yang kala itu masih balita, 1986. Sepeda motor mini pendek banget. Buat Mas Nomo, mungkin itu hal biasa. Tapi bagi saya, itu tanda kasih yang tulus. Tanda perhatian yang melampaui panggung musik dan ketenaran.
Saya juga menyimpan kenangan ketika menulis skenario Koes Bersaudara dan Koes Plus di Magelang. Selama satu bulan, di rumahnya di pinggir sungai, yang asri, teduh, dan penuh kehangatan keluarga. Rumah itu seperti cerminan dirinya—terbuka, lapang, dan membuat siapa saja betah singgah. Mas Nomo yang meminta Mas Arswendo Atmowiloto agar yang menulis skenario Koes Bersaudara dan Koes Plus, 1997, hanya saya. Bukan orang lain.
Kami berbincang panjang, tentang musik, tentang cerita hidup, tentang perjalanan Koes Bersaudara yang kemudian menjadi Koes Plus dan menjelma legenda. Mas Nomo menceritakan secara detail dan objektif. Dari Mas Nomo, saya belajar bagaimana kesenian bisa tetap lahir dari keseharian, tawa, dan keakraban yang tidak dibuat-buat. Tidak ada basa-basi. Saya menyelesaikan skenario tersebut. Tapi, masalah hak cipta akhirnya membuat film itu tidak kunjung diproduksi. Padahal, perusahaan filmnya sudah didirikan, namanya Serikat Rakyat Indonesia (SRI). Skenario itu sampai sekarang masih saya simpan. Kisah Koes Bersaudara dan Koe Plus menurut cerita Mas Nomo.
Waktu melaju, jalan hidup membawa kami ke arah masing-masing. Pertemuan semakin jarang terjadi. Kami jarang bertemu, namun saya masih tetap akrab dengan Mbak Meis, istri Mas Nomo. Namun, ada saat yang terasa begitu getir—ketika saya terakhir bertemu dengannya pada waktu Mas Yon Koeswoyo meninggal, 2018.
Dalam duka, saya melihat sosok Mas Nomo sebagai saudara yang setia, yang tetap hadir meski usia menua, meski langkah melambat. Wajahnya menyimpan sejarah panjang: suka, duka, musik, persaudaraan, dan cinta. Saya diminta duduk satu kursi dengannya. Pipi saya ditampar pelan. Saya cium punggung tangannya. Saya sangat menghormatinya.
Kini, setiap kali saya mengingat Mas Nomo Koeswoyo, kenangan itu hadir sebagai potret persahabatan yang jernih. Bukan karena ia musisi besar, melainkan karena ia manusia yang tahu memberi, tahu menyambung hati. Dan saya bersyukur, pernah berjalan sejenak dalam lintasan hidupnya, menorehkan cerita kecil yang bagi saya begitu berarti. ***
Hartjah
10102025