NASIB PUISI HARI INI, Riswo Mulyadi

Riswo Mulyadi

NASIB PUISI HARI INI

Puisi tidak mati
ia hanya pindah rumah
Dulu ia tinggal di lembar majalah,
di sudut koran yang dilipat pagi-pagi,
dibaca dengan kopi yang belum dingin.
Sekarang ia berdesakan di layar,
di antara notifikasi,
di sela jempol yang terburu-buru
Puisi masih ada
tapi sering kalah cepat
dari video berdurasi lima belas detik
Ia tetap lahir
dari luka, dari cinta, dari kegelisahan,
seperti dulu—
karena zaman boleh berubah,
tapi manusia tetap membawa hati yang sama
(Sebab sastra selalu merepresentasikan zamannya,
kata mereka yang meneliti kehidupan)
Namun kini
puisi harus belajar bertahan
dalam dunia yang tidak sabar membaca
Ada penyair yang berteriak di sunyi,
tapi tenggelam oleh riuh komentar.
Ada yang menulis paling jujur,
tapi kalah oleh yang paling viral
Puisi hari ini seperti petani di kota:
menanam kata
di tanah yang bukan miliknya
Ia masih tumbuh
ya, ia tumbuh,
bahkan lebih liar, lebih bebas, lebih berani
dari zaman ketika rima dijadikan pagar
“Apakah puisi hidup?”
“Apakah masih ada yang mau tinggal
cukup lama untuk benar-benar membacanya?”
Di sudut malam,
masih ada seseorang
yang menulis puisi
bukan untuk dilihat
tapi untuk selamat dari dirinya sendiri
Dan mungkin
selama masih ada satu saja jiwa seperti itu,
puisi tidak pernah benar-benar kehilangan nasibnya.
Cilangkap, 14 April 2026