NAMA KAMI RAKYAT, Maulana/Langit Reksa (033)

Maulana

NAMA KAMI RAKYAT

Jangan panggil kami
hanya ketika bendera
harus dinaikkan.
Kami ada
di pasar sebelum subuh,
di pabrik yang belum tidur,
di sawah yang menunggu hujan,
di pelabuhan
yang mengangkat negeri
dengan punggung.
Di rumah,
beras ditakar dengan gelas.
Telur disimpan
untuk besok.
Uang sekolah
dilipat ibu,
diselipkan
di bawah kalender.
Malam.
Anak bertanya,
“Besok makan apa?”
Ibu tersenyum.
Di luar,
poster-poster besar
tersenyum lebih lebar.
Merah-putih
naik ke langit.
Kami menghitung receh
di telapak tangan.
Pagi berikutnya
kami berangkat lagi.
Pasar.
Pabrik.
Sawah.
Pelabuhan.
Begitu seterusnya.
Sampai suatu hari
kami berhenti sebentar
di bawah bendera.
Tidak membawa batu.
Tidak membawa api.
Hanya tangan
yang berbau kerja,
punggung yang belum lurus,
dan nama
yang jarang dipanggil.
Rakyat.
Bendera terus berkibar.
Di rumah,
beras kembali ditakar.
Dan dari dapur
suara kecil itu terdengar lagi:
“Besok makan apa?”
Kali ini
tidak ada yang menjawab.
Hanya bendera
yang berkibar.

Banjarmasin, 09 Agustus 2026

Maulana,* lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 19 Agustus 1988. Menggunakan nama pena Langit Reksa. Menulis cerpen dan puisi di internet, dengan ketertarikan pada absurditas, satire, cinta, kehilangan, serta realitas sosial. Baginya, menulis adalah cara memandang hal-hal sederhana dari sudut yang tidak selalu sederhana.*