MUCHLIS SARDJANA HUTAGALUNG, oleh Harry Tjahjono
MUCHLIS SARDJANA HUTAGALUNG
(3 April 1957 - 26 Agustus 2018)
ADA PERSAHABATAN yang tumbuh begitu alami, seakan tak pernah dirancang, hanya mengalir dari hari ke hari, dari satu ruang hidup ke ruang hidup lainnya. Begitulah persahabatan saya dengan Muchlis Sardjana, asal Batak kelahiran Salatiga, Jawa Tengah —sobat seniman, pelukis, ilustrator, penata grafis, dan sahabat yang setia menemani sejak saya baru mulai menjalani profesi sebagai penulis.
Kami pernah tinggal bersama di sebuah kontrakan sederhana di Puri Mutiara, Cipete, Jakarta Selatan. Rumah tanpa listrik, tapi justru penuh cahaya ide dan tawa. Dikontrakan di mana siang sayur asem sorenya bisa direvisi jadi sayur lodeh oleh Mas Djatmiko Djat. Di sana, kami belajar menata hidup dengan sederhana, juga merawat mimpi-mimpi dengan tekun.
Muchlis bukan sekedar sahabat, ia adalah penopang imajinasi saya. Ia melukis ilustrasi untuk cerpen-cerpen saya, bahkan untuk serial buku anak-anak yang saya tulis. Ia memberi gambar pada kata, memberi rupa pada imaji, sehingga dunia yang saya ciptakan dengan kalimat menjadi lebih hidup di mata pembaca. Di Majalah Intan kami bekerja bersama, berbagi semangat dan mimpi. Muchlis kemudian juga mengisi majalah Popular dengan sentuhan grafis dan ilustrasinya yang khas.
Saya mengenalnya sebagai pribadi optimis, sabar, dan humoris. Ia adalah teman bicara yang penuh pengertian. Di antara banyak sahabat yang saya temui dalam perjalanan hidup, Muchlis selalu punya cara menertawakan kesulitan tanpa kehilangan kesungguhan. Ia bisa menertawakan kesusahan, tapi sekaligus mengubahnya menjadi cerita yang meringankan beban. Saya dan Muchlis kadang saling menyebut "Tante". Dan telponan tapi sengaja tidak nyambung. Saya bicara teh poci, Muchlis ngomong soal pameran lukisan, bisa ngelantur sampai 10 menit. Yang penting sudah telponan.
Saya ingat, ketika Ibu saya wafat 1984, Muchlis datang dari Jakarta ke Madiun. Ia datang, menemani saya tidur di makam Ibu. Sebab menurut mitos, Ibu yang wafat di hari tertentu makamnya harus dijagain. Dan saya menjagainya, selama dua minggu. Muchlis hadir, menghibur dan meminta saya untuk segera kembali ke Jakarta.
Bahkan setelah kami menikah dan menempuh hidup masing-masing, persahabatan itu tetap terjaga. Ada kehangatan yang tidak lekang oleh waktu. Muchlis juga seorang kolektor piringan hitam, dan di antara koleksinya tersimpan lagu-lagu saya yang dinyanyikan Nanang Endro—sebuah penghargaan yang tak pernah ia ucapkan dengan kata, tetapi saya rasakan dalam tindakannya.
Bagi saya, Muchlis bukan hanya sahabat, tapi juga saksi perjalanan hidup—dari kontrakan tanpa listrik, halaman-halaman majalah, hingga ruang-ruang keluarga yang kami bangun. Persahabatan kami adalah bukti bahwa seni bukan hanya karya, melainkan juga cara menjaga jiwa, menguatkan hati, dan menumbuhkan tawa. Sampai sekarang saya masih karib dengan istrinya, Jeng Wiwien Muchlis.
Ia bukan hanya pekerja seni, ia adalah pekerja hati. Optimisme dan humornya seperti udara segar di tengah hidup yang kadang terasa sesak. Ia teman bicara yang sabar, pendengar yang tulus, sahabat yang tidak tergesa menghakimi. Kami tetap bersahabat setelah menikah, setelah masing-masing menempuh jalan hidup. Persahabatan kami tidak pudar, justru menua bersama. Kami seperti lukisan yang makin lama makin dalam warnanya.***
Hartjah
11102025