MEREKA HANYA PERGI, Harry Tjahjono

**MEREKA HANYA PERGI **

SEJAK 1 OKTOBER 2025, setiap hari saya selalu menulis satu
kenangan tentang sahabat yang telah meninggal dunia. Bukan ingin larut dalam kesedihan, melainkan setiap nama yang saya tulis adalah cahaya kecil yang masih menyala dalam ingatan. Cahaya kebaikan.
Mungkin benar kata orang, usia dan stroke membuat orang menjadi sentimentil. Tapi, bagi saya, kenangan tidak hanya soal perasaan, tapi juga rasional dan realistik, layaknya film perjalanan hidup tanpa editan, tanpa musik latar. Semacam film dokumenterlah, kira-kira.
Setiap tulisan tentang mereka bukan sekedar nostalgia. Itu hanya cara saya mengenang kebaikan, mengembalikan kehadiran orang-orang yang telah memberi arti pada hidup. Saya bersyukur pernah hidup di antara orang-orang baik, yang mengasihi, mengajarkan, dan memberi pengetahuan -- sengaja maupun tidak sengaja. Mereka sahabat, guru dan saudara dalam kehidupan yang tak selalu mudah.
Kini, di usia 72 tahun, setelah dua tahun menjalani stroke yang membatasi gerak tubuh, saya merasa waktu menjadi lebih dekat, lebih nyata. Ada hari-hari ketika saya hanya duduk sendirian, seperti di peron kematian, menunggu kereta kematian yang entah kapan datang. Dengan menahan rasa sakit, dan kebosanan yang menggigit. Hari-hari mesti dijalani. Waktu harus ditunggu dalam jemu. Tapi, saya tidak takut. Tidak sepi. Saya hanya ingin memastikan bahwa sebelum kereta tiba, kenangan ini tidak hilang begitu saja. Ada tertulis di buku kenangan sederhana.
Menulis mereka seperti menulis diri saya sendiri, karena di dalam sahabat ada bagian hidup saya yang ikut tersimpan. Ketika menulis Rendra, saya kembali menjadi murid yang haus makna kata. Ketika menulis Remy Sylado, saya belajar lagi tentang keteguhan dan disiplin. Ketika mengenang Arswendo Atmowiloto, Alex Komang, Tino Karno, Nomo Koeswoyo, Sys NS, Yon Koewoyo dan yang lain, saya merasa sedang berbicara dengan masa lalu yang tak benar-benar pergi. Menyenangkan, dan menenteramkan.
Mereka hidup di antara baris-baris tulisan ini.
Mereka tertawa, berbincang, "Kita belum benar-benar berpisah. Selama kita masih menulis, kita masih ada." Mungkin itu sebabnya saya terus menulis — bukan sekedar untuk mengingat, melainkan demi membiarkan kenangan tetap terjaga. Kenangan juga butuh tempat tinggal. Dan bagi saya, rumah kenangan adalah tulisan. Sebuah buku cerita sederhana.
Menulis sahabat-sahabat yang telah pergi, adalah bentuk kecil dari ungkapan rasa terima kasih, atas kebaikan dan kehidupan yang kami pernah berbagi. Dan bila nanti saya sendiri dijemput kereta kematian, mudah-mudahan ada yang menulis tentang saya dengan cara yang sama. Kalaupun tidak ada, tidak apa-apa. Sekurangnya saya sudah punya buku kecil tentang sahabat-sahabat yang "sudah bercerita" sedikit tentang persahabatan kami.
Sebab, pada akhirnya, yang tersisa dari hidup ini bukan hanya karya, melainkan jejak kebaikan dan cinta. Dan, untuk sementara, saya akhiri tulisan mengenang "Mereka Hanya Pergi". ***
Harry Tjahjono
18102025