Menjadi Penyair Tahun Delapan Puluhan, Gunoto Saparie (047)
Gunoto Saparie
Menjadi Penyair Tahun Delapan Puluhan
kami naik turun angkutan kota, membawa naskah dalam map lusuh
di luar jendela, kota bergerak seperti mimpi yang retak
huruf-huruf di kepala kami terus menyala, tak pernah luruh
meski perut lapar dan sepatu sudah berdebu pekat
di kantor redaksi kami mengetuk pintu dengan gugup
menyodorkan kertas yang bergetar karena harapan
sekalian menagih honor, selembar amplop yang redup
tapi hangatnya seperti fajar pertama di jalan pelabuhan
kami berdiskusi sampai malam menua di warung kopi
membicarakan chairil seolah mereka duduk di kursi sebelah
udara penuh asap dan tawa yang tak ingin pergi
dan kata “revolusi” masih terdengar seperti nyala yang indah
rambut kami gondrong, tubuh kami ceking
mandi kadang jadi upacara yang terlupa
kami lebih percaya pada puisi yang getir tapi bening
daripada parfum dan sisir yang tak menyentuh kepala
kami menulis sampai matahari hilang di atap seng
dengan mesin tik butut yang mencatat setiap derak ragu
seolah malam dan kertas saling menunggu untuk saling menggeng
dan cinta hanya semacam jeda di antara tanda baca yang beku
kini, ketika semua itu tinggal kenangan di kafe digital
aku masih mencium bau tinta di tangan-tangan tua itu
para penyair delapan puluhan yang menulis tanpa modal
kecuali keyakinan bahwa kata bisa menyelamatkan waktu
Ngaliyan, Semarang, 2025.
*Gunoto Saparie. Kelahiran Kendal, 22 Desember 1955. Selain menulis puisi, juga cerita pendek, novel, dan esai. Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah ini pernah menjadi guru, dosen, wartawan, konsultan keuangan dan perpajakan, penyuluh agama madya, dan lain-lain.
*