MENCARI DERMAGA PULANG, Wiji Yulianto
Wiji Yulianto
MENCARI DERMAGA PULANG
Usia muda adalah kilat cahaya
yang melintas tanpa aba-aba,
hembus terlampau dini
melaju tanpa tanda baca.
Hari-hari gugur
seperti kelopak yang lupa berhenti,
meninggalkan jejak perak
yang lekas larut
ditelan sunyi.
Aku adalah sayap
yang terbentang di keluasan biru,
menyisir cakrawala tanpa peta,
mengejar awan
yang menderu dan menjauh.
Namun di puncak tertinggi
ruang hampa terasa nyata,
sebab gema di dada
tak menemukan telinga
untuk berbagi makna.
Waktu mengelupas perlahan,
luruh dalam hening yang jujur,
setiap fajar membuka luka
pada lembar baru
yang tak pernah benar-benar kosong.
Di cakrawala fana
aku hanyalah musafir,
membawa harap yang bergetar
di ujung rindu
yang tak pandai reda.
Kupintal doa
di antara detik yang berlari,
menanti sang dewi
turun dari cahaya pagi—
melabuhkan sauh
di dermaga sepi ini,
menyebutku pulang,
dan mengakhiri
pengembaraan diri.