Memori Sakral Janji Sumpah Pendiri Negeri, Wardjito Soeharso
Gambaran Indonesia Sekarang dipuisikan oleh Wardjito Soeharso, fenomena apa yang disebut2 khalayak dengan sebutan "gelap", "negeri konoha", yang dipimpin oleh bangsa iblis berujud manusia. Mereka tidak memiliki hati nurani dan terang terangan melakoni kebiadaban bahkan senang ditertawakan lebih dari mabuk tetapi gila yang akut dan korbannya adalah rakyat bahkan perintahnya meracuni generasi muda dan membunuh karekter menjadi bangsa yang bejad. Maka tak akan lama Indonesia bubar jika Allah tak mengampuni bangsa ini. Berikut puisinya:
**Wardjito Soeharso **
Memori Sakral Janji Sumpah Pendiri Negeri
Ya, Tuhanku!
Koran, Majalah, Tabloid, Bulletin, bangkrut
Toko Buku, tutup
Penerbit Buku, menyusut
Penulis, Pengarang, ambruk
Pembaca, Pecinta, Penikmat Buku, terus menyusut
Ilmu pengetahuan, luluh lantak remuk tak berbentuk
Institusi Pendidikan, dari PAUD sampai Universitas
Dari Sekolah Anak Bermain sampai Mahasiswa Program Doktoral
Terpenjara dalam kebekuan kungkungan akal pikiran
Kelangkaan bacaan sumber penambah ilmu pengetahuan dan peradaban
Ya, Tuhanku!
Pendahulu Pendiri Negeri telah memateri janji sumpah sebagai mantra anak Bumi Pertiwi
Mewujud cita-cita utama membentuk kecerdasan dan kesejahteraan anak-cucu-cicit di masa depan
Di bawah naungan kesejukan payung kedamaian dan kebebasan
Gaung janji sumpah mantra sakral hilang lenyap tak terdengar lagi
Kecerdasan dan kesejahteraan tersisa sekedar utopi
Binal dan liar justru tersebar ke setiap sudut ceruk mencipta kesempitan ruang imajinasi berekspresi
Berselimut rona aura salah, sesat, dan jahat
Menggiring anak negeri terus mepet ke pinggir
Jurang kehancuran tanpa bayangan hari depan
Orangtua dan Sekolah telah gagal mengajar membentuk minat anak belajar
Abai merangsang naluri kuriositas mencari untuk menemu
Jalur mandiri kembang luaskan pemahaman ilmu pengetahuan
Berburu buku bacaan arahkan selera gerakkan pikiran berekspresi lewat gemulai tarian jemari menyusun tulisan berbagi ide dan gagasan
Ya, Tuhanku!
Anak negeri tergugu kelu
Masih berbungkus lusuh baju
Kemiskinan dan kebodohan bercorak dungu
Ke mana lagi, anak negeri mesti mengadu
Selain bersimpuh lutut mencium bumi milikMu
Sodorkan nasib berharap limpah anugerah
petunjuk, bimbingan, dan pertolongan
Belas kasih sayang kelembutan penuh cinta
Ya, Tuhanku!
*14.02.2026 *