Mblekethek

Mblekethek
Antologi puisi Penyair Indonesia
Penerbit Media Penebar Pustaka
Kota Terbit : Jogyakarta
Tahun Terbit 2019
Cetakan : 1 (pertama 2019)
ISBN : 476 602 5686 453
Pengantar : Rg Bagus Warsono
Liris Antologi : Gilang Teguh Pambudi, Syahriannur Khaidir, Edi Priyatna
Penyair :
1.Rg Bagus Warsono, (Indramayu)
2.Winar Ramelan, (Denpasar)
3.Buanergis Muryono (Depok)
4.Yoseph Yoneta Motong Wuwur (Kupang)
5.Wardjito Soeharso (Semarang)
6.Aloysius Slamet Widodom (Jqkarta)
7.Edy Priyatna (Depok)
8.Pensil Kajoe
9.Nila Kesuma
10.H. Asril, (Indramayu)
11. Heru Mugiarso, (Semarang)
12. Raeditya Andung Susanto (Banyumas)
13.Sarwo Darmono (Lumajang)
14.Gilang Teguh Pambudi (Jakarta)
15.Sri Sunarti (Indramayu)
16.Nur Komar (Jepara)
17.Zaenni Bolli (Flores)
18.Arya Setra (Jakarta)
19.Uyan Andud (Kediri)
20.Sujudi Akbar Pamungkas (Kalteng)
21. I Ketut Aryawan Kenceng (Klungkung)
22. Leli Luyantri (Indramayu)
23. Mohammad Mukarom.
24. Edi Kuswantono
25. Firman Wally (Ambon)
26. Alkalani Muchtar (Kalimantan Selatan)
27. Ade Sri Hayati (Indramayu)
28. Raden Rita Maimunah (Padang)
29. Roymon Lemosol (Ambon)
30.Sukma Putra Permana (Jogyakarta)
31.Heru Marwata (Jogyakarta)
32.Alhendra Dy (Bangko Maringin Jambi)
33.Sami’an Adib (Jember)
34.Jen Kelana (Bangko, Jambi)
35. RB. Edi Pramono (Jogyakarta)
36.Carmad (Indramayu)
37.Barokah Nawawi (Semarang)
38. Muhamad Iskandar
39.Syaiful B. Harun (Banyuasin)
40.Muhammad Lefand (Jember)
41.Iwan Bonick (Bekasi)
42.Meinar Safari Yani (Klaten)
43.Rai Sri Artini (Badung)
44.Wanto Tirta (Jakarta)
45.Gregorius Andi (Jogyakarta)
46.Muhammad Affip
47. Sri Budiyanti
48. Suyitno Ethex.
49. Aloet Pathi (Pati)
Pancen Zaman Mbleketek

Mbleketek memang, tentu bukan benang ruwed. Mungkin alam ini menghendaki demikian, tak semata 'apa boleh buat, buktinya tetep ditelan juga. Bahkan ada yang menari seperti udang dalam bubur-udang. Dicari kemana daging udang itu dalam panci bubur-udang, tetep tidak ketemu. Ternyata penjualnya bilang, udangnya tak akan ketemu karena udangnya digerus dengan sambal ! Ah, bisa-bisa saja penjual bubur-udang itu berkelit. Tetapi ketika ahli kuminer mencicipi masakan itu, katanya, ada udang dalam bubur-udang.
Katanya, " Enak jamanku ya Bro?". Tentu bukan untuk yang sengsara di zaman ini, sebab yang sengsara jaman doeloe juga bukan main banyaknya. Anehnya yang kecukupan dan berkah di zaman ini bilang "Enak jamanku doeloe", kan aneh?
Ya sudah, wong maunya ngomong begitu biarin. Esok harinya kedapatan orang yang bilang enak dijaman doeloe itu membeli mobil baru (buktinya juga banyak, di jalan mobil baru banyak dipakai) , padahal di zaman doeloe boro-boro orang beli mobil, pit onthel saja gak kebeli. Lhoh? Macam mana pula ini orang? Itulah Indonesia.
Lucunya lagi ada penyair yang dapat duit besar karena "disumpel cangkeme pakai segepok atusan ewu, dihujat teman-temannya. ada yang bilang munafik, 'gembel babu, 'carmuk, sampai kethek nemoni mulud. Suatu saat giliran dirinya dipanggil untuk disumpel bacotnya. Kemudian dia bilang katanya ini karena prestasi karya sastranya. Ndasmu "kunyuk pada karo aku jebule. Jangankan coca-cola, ubi mentah diiris-iris juga rebutan. seperti monyet di Plangon Cirebon.
Di dunia kepenyairan mblekethek juga terlihat. sampai-sampai orang lupa kritikus dan kurator. Tetapi tanpa dikritik juga penyairnya bisa terkenal. Doeloe untuk menjadi terkenal karyanya dihantam kritik dan dibicarakan banyak orang, sekarang lain. Untuk menjadi terkenal boleh dengan cara apa saja. Doeloe ada yang ngamen di mobil bus dengan baca puisi. Ada yang bilang, "belum masuk bui berarti belum terkenal"! ha ha ha ia sih.
Sekarang setiap kota punya penerbit, perkara buku laku apa tidak itu nomor dua. Bilang saja "best seller" padahal nyetaknyua cuma 10 eksemplar. Wah wak wah.
Pancen zaman blekethek sekarang ini!
(Rg. Bagus Warsono, sastrawan tinggal di Indramayu)