MASA-MASA YANG PERNAH ADA, Endang Supriadi (040)

Endang Supriadi
MASA-MASA YANG PERNAH ADA

40 tahun yang lalu,
Aku menemukan seorang penyair di dalam bayanganku
Ia menulis di saat pagi, siang dan malam. Setiap akhir pekan
Ia memburu lapak koran. Membuka lembar halaman
Penuh debar, penuh sensasi. Ada tulisannya
Ia berteriak, tak ada tulisannya ia tersedak
40 tahun yang lalu,
Aku menemukan seorang penyair itu sedang memasang kertas folio
Ke rol mesin tik. Serentak suara mesin tik mengudara
Menerobos rongga semesta. Tik tak tik tuk tok, tik tak tik tuk tok
Ganti kertas, tik tak tik tuk tok, terus begitu
Sampai isi dunia terangkum
Saat bulan memar di langit, aku menemukan penyair itu
Sedang merangkai diksi di atas kertas. Sebaris dua baris
Dari satu bait jadi dua bait. Lalu
Jadi tiga bait, jadi empat bait. Kemudian dibaca ulang
Dicoret baris kedua di bait pertama, dicoret
Baris keempat di bait ketiga. Dicoret
Baris kedua di bait keempat. Menyeruput kopi seteguk lalu diam. Termenung
Dua bulan 10 hari, tiga wesel di meja, belum lagi honor
Ambil langsung ke redaksi ada dua tinggal jalan
Pagi ke jalan Dewi Sartika, siang ke jalan Kedoya
Sorenya ke jalan Bangka
Lega hati. Bisa tidur enak. Di atas rak buku,
Beberapa trophy berjajar
Hasil lomba adu puisi di lahan bergengsi
Dan sebuah buku tabungan sebagai wadah
Untuk honor yang hanya bisa ditransfer
40 tahun sudah berlalu,
Aku menemukan penyair itu mulai tak segesit dulu
Bahkan ia mulai takut dengan keramaian. Kesehariannya kini,
Menyepi duduk di tepi kolam ikan. Menghabiskan waktu
Dengan ratusan tanaman hias. Aliran waktu jadi ruang introspeksi diri
Sesekali ia meluangkan waktu mengambil buku antologi
Dari rak bukunya. Penyair itu melihat tetek-bengek yang ada di hatinya.
Terlihat berserakan tak karuan di dalam puisi
Yang pernah ditulisnya puluhan tahun yang lalu
"Siapa aku sekarang? Renungnya
Depok, 2025