Mas, Negeri Ini Sebenarnya Punya Siapa? Hj. Rosmita (038)

Hj. Rosmita

Mas, Negeri Ini Sebenarnya
Punya Siapa?

Mas,
negeri ini punya siapa?
Katanya milik rakyat,
tetapi sawah menyusut,
laut dipagari,
hutan berganti papan nama.
Katanya kemerdekaan
telah berusia delapan puluh satu tahun,
mengapa di meja makan
masih ada piring
yang menunggu nasi?
Mas,
barangkali negeri ini memang seperti panjat pinang.
Tiangnya licin oleh janji yang berulang.
Hadiahnya berkilau di puncak langit.
Sementara rakyat terus memanjat
dengan peluh yang tak pernah kering,
berkali-kali tergelincir
sebelum sempat menyentuhnya.
Miris sekali,
cermin nyata kemiskinan bangsaku.
Singgasana bukan yang diminta.
Yang diinginkan hanya
harga hidup tidak lebih murah
daripada selembar janji.
Anak-anak belajar
di ruang kelas yang bocor ketika hujan.
Mereka diajari mencintai negeri,
namun diam-diam bertanya,
mengapa cita-cita
terasa semahal menggapai langit?
Di negeri yang tanahnya subur,
petani pulang
dengan punggung menghitam dipenuhi letih.
Harga panen tak pernah semurah
keringat yang jatuh.
Nelayan berangkat sebelum fajar,
menantang ombak dan angin.
Saat kembali,
hasil laut belum tentu cukup
membeli beras untuk esok pagi.
Anak-anak muda menggenggam ijazah,
berjalan dari satu pintu ke pintu yang lain.
Yang dibawa pulang
lebih banyak penolakan
daripada harapan.
Orang tua menjual tenaga
hingga lututnya gemetar,
sementara pidato tumbuh subur
di ruang-ruang yang tak pernah
mencium bau lumpur.
Mengapa suara rakyat
sering dianggap gaduh,
sedang tepuk tangan
lebih disukai daripada kebenaran?
Pajak dibayar.
Listrik dilunasi.
Bahkan harapan pun
seperti punya jatuh tempo.
Kewajiban tak pernah lupa ditunaikan,
lalu mengapa negeri ini
sering lupa mengembalikan hak?
Jika negeri ini benar rumah bersama,
mengapa ada yang tidur
di istana cahaya,
sementara yang lain
memeluk lapar di beranda gelap?
Mas...
Belas kasihan bukan yang dicari.
Yang hendak disuarakan
adalah gugatan:
agar hukum berhenti memilih wajah,
keadilan tidak tinggal
sebagai tulisan di dinding ruang sidang.
Anak petani,
nelayan,
buruh,
dan pedagang kecil,
semestinya memiliki ruang yang sama
untuk mengejar mimpi.
Sebab kemerdekaan
bukan sekadar upacara.
Bukan deretan pidato.
Bukan pula riuh tepuk tangan.
Kemerdekaan adalah
ketika petani menikmati hasil panennya,
nelayan pulang membawa senyum,
anak-anak tidak putus sekolah karena biaya,
orang sakit tidak takut berobat,
dan orang jujur
tidak gentar mengatakan yang benar.
Dan panjat pinang
tak lagi menjadi perlombaan
tentang siapa yang paling dekat dengan hadiah,
melainkan lambang
bahwa setiap peluh
berhak mencapai puncaknya.
Sebab tak ada kemerdekaan
jika rakyat terus menjadi pemanjat,
sementara hadiah
selalu jatuh
ke tangan yang sama.
Maka izinkan saya bertanya, Mas...
Negeri ini sebenarnya punya siapa?

Semarang, Agustus 2026

Rosmita
Perempuan April kelahiran Banda Aceh,
menetap di Provinsi Jambi.
Saat ini hijrah ke Kota Semarang.
Gemar menulis puisi,
cerpen, resensi buku, dan opini.
Bagiku, menulis adalah cara sederhana
untuk meninggalkan jejak di atas dunia.
"Menulislah meskipun hanya satu kata.
Tulisan akan tetap abadi,
meskipun penulisnya telah tiada."