Lumbung Puisi Indonesia Gerakan Menyemai Kata Oleh: Riswo Mulyadi
Lumbung Puisi Indonesia
Gerakan Menyemai Kata
Oleh:** Riswo Mulyadi**
Di negeri yang tanahnya basah oleh luka
dan langitnya dipenuhi jargon,
ada yang menanam puisi
seperti menanam padi: sabar, tekun, tak berharap viral.
Namanya: Lumbung Puisi Indonesia.
Digagas dan digembalakan oleh Rg Bagus Warsono,
seorang penyair yang lebih sering menyulam sunyi
ketimbang mencari sorak sorai podium.
Ia bukan menteri kata. Ia petani makna.
Menyabit diksi dari pematang-pematang pengalaman rakyat,
mengangon sajak dari desa ke desa,
lalu menaruhnya di lumbung
sebagai cadangan pangan batin bangsa.
Lumbung itu bukan rak buku.
Ia nyawa kolektif.
Di dalamnya, suara ibu yang hilang di puskesmas
bertemu sajak buruh bangunan yang pulang tak disapa anak-anaknya.
Di sana, ada puisi anak madrasah yang menulis tentang hujan
dengan ejaan yang masih salah,
tapi doanya lebih fasih dari pidato menteri.
Rg Bagus Warsono tidak membangun menara gading.
Ia membangun sumur.
Tempat siapa pun bisa menimba makna.
Tak penting kamu juara lomba atau tidak pernah ikut apa-apa.
Kalau kamu punya hati,
dan kata-katamu jujur,
maka Lumbung akan menerima panenmu
sebagaimana sawah menerima benih siapa saja.
Ini bukan gerakan elite.
Ini gerakan akar.
Bersama ribuan penyair akar rumput,
Lumbung telah menulis sejarah kecil
dengan tinta ketulusan dan keringat kolektif.
Tanpa tepuk tangan sponsor,
tapi dengan genggaman tangan antarpenyair
yang saling memanusiakan.
Zaman boleh gaduh.
Tapi di Lumbung,
puisi masih punya ruang untuk berdoa.
Rg Bagus Warsono tahu:
kalau puisi mati, bangsa ini kehilangan hati.
Dan kalau tak ada yang menyimpan kata-kata dari rakyat,
maka sejarah hanya ditulis oleh yang punya mikrofon.
Maka ia memilih jalan sunyi,
jalan menanam,
jalan menyimpan.
Lumbung ini akan tetap berdiri,
selama masih ada orang yang percaya
bahwa menulis puisi
adalah cara paling pelan
dan paling pasti
untuk mencintai negeri.
(KRM, 29 Juli 2025)