KISAH PENYAIR 80-AN, Asmariah (039)

Asmariah
KISAH PENYAIR 80-AN

Walau hujan jatuh
penyair menepi di kios koran minggu pagi
Mata mencari nama yang rapuh
di ruang sastra yang wangi tinta dan janji.
Jika sebuah puisi termuat senyum pun tumbuh lirih
Membeli dua tiga eksemplar:
satu untuk disimpan
satu untuk kekasih
satu lagi untuk mengingat hari ketika kata bekerja.
Namun bila tak ada namanya di sana, langkah menjadi ringan,
Pergi begitu saja tanpa membeli
seolah kehilangan adalah hal yang lumrah di jalan
dan senja menelan sunyi di bawah pohon turi
Di rumah, penyair menunggu tukang pos lewat pagar,
menyodorkan kertas cokelat dengan hati berdebar
Selembar wesel, bukan saja hasil lelah
tetapi bukti bahwa kata bisa menjelma sebongkah sabar.
Nama-nama tinggal kenangan di halaman media lama,
huruf-hurufnya menguning bersama waktu dan hujan
Aku masih mendengar napas penyair di antara aksara,
seperti doa yang terus menunggu dibaca dalam diam yang panjang.
Yogyakarta. Oktober 2025

*ASMARIAH. Lahir di Serang, Banten, 21 Agustus. Ketua Literasi TBM Temon Yogyakarta. Buku puisinya: Berangkatlah Kata-kata (2022), Perempuan Penabuh Subuh (2023), Jejak Waktu Percakapan Sunyi (bersama Ngakan Made Kasub Sidan, 2023). Puisinya termuat dalam beberapa antologi. Tinggal di Yogyakarta.