Kidung-Kidung Sunyi Kaum Tertindas Silivester Kiik (002)

Silivester Kiik

Kidung-Kidung Sunyi Kaum Tertindas

Dari punggung bukit
berjalanlah mereka
menuju sunyinya sabana
sementara matahari
menggantungkan salib emasnya
di bahu pohon-pohon cendana yang renta.
Angin menggembalakan debu
seperti seorang ibu
yang menggendong
bakul anyaman lontar
berisikan sebait sembahyang
dan sejumlah tetesan air mata.
Lihatlah: anak-anak mereka
sibuk mengisap senja
dari batang-batang jagung
dan menjadikannya sebagai kisah
yang tak mampu diterjemahkan
dalam amsal para leluhur.
Mereka adalah pejuang kemenangan
yang nama-namanya ditulis hujan
lalu dihapus kemarau
meminta kebenaran
tetapi yang diberi ialah janji
dan hukuman.
Siapakah yang seharusnya
dijadikan sebagai benih pertolongan?
Lihatlah: mereka memanen batu
menanak lapar
memerah keringat
hingga berubah menjadi anggur
yang tak pernah diminum.
Di lopo, lelaki-lelaki tua
mengunyah sunyi lebih lama
daripada memamah sirih-pinang.
Di tenda-tenda kecil—beratapkan daun kelapa
perempuan-perempuan menenun bulan dan bintang
ke dalam helaian Tais-Bete
namun malam membelinya
dengan harga air mata.
Kata langit kepada mereka: “jadilah terang.”
Dengarlah: burung-burung
masih menyebut nama mereka
dengan bahasa embun
yang berkilau di setiap dedaunan
tetapi negeriku—tanah air dan darahku
lebih petah lidah dalam menghitung angka
hingga ayat-ayat yang tak mampu
diilhami oleh jiwa-raga
daripada denyut nadi di ladang
yang sedia mendengarkan
dan menjawab setiap permohonan.
Oh, mama bumi Timor
angkatlah wajahmu
walau dipenuhi gurat batu kapur
pintaku, berbisiklah kepada matahari:
“Ingatlah, bahwa setiap akar
tak pernah iri kepada bunga.”
Waktu demi waktu berlalu
penderitaan tak henti-hentinya dikisahkan
ketika lonceng subuh
dibunyikan oleh ayam hutan
kesunyian itu tak lagi menjadi luka
melainkan madah yang tumbuh
dari celah-celah batu
mengalir bersama embun
lalu terbang di sayap elang Timor
menuju langit tua
tempat Tuhan menyimpan nama-nama leluhur
yang tak pernah ditulis dalam kitab sejarah
tetapi diabadikan oleh harum cendana, sabana, lontar
dan nyanyian sunyi kaum tertindas
yang lahir dan mati dari penderitaan.

Atambua-NTT, 6 Agustus 2026

Silivester Kiik, adalah seorang guru, penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, Pengurus FTBM Kabupaten Belu, anggota aktif FTBM Propinsi NTT dan penggiat literasi perbatasan. Karyanya antara lain buku antologi puisi dan buku pendidikan: “Amor (2020); DEBU dan Sebuah Pesan yang Belum Sempat Terbaca oleh Rembulan (2020); Menabur Matahari (2020); Inovasi Pembelajaran Geografi Zaman Now (Suatu Penerapan dalam Model Pembelajaran Outdoor Study, Gaya Belajar, dan Kemampuan Berpikir Spasial Siswa) (2020); Gadis-Gadis Sutra yang Membawa Selendang Melarikan Diri Mencari Kesunyian (2022)” dan beberapa buku lainnya dalam proses penerbitan. Sejumlah puisi lainnya turut mengisi berbagai antologi bersama baik regional, nasional, maupun internasional. Tinggal di Atambua-Timor-NTT.