KETIKA JERITAN TAK LAGI DIDENGAR A.Rahim Eltara (013)
A.Rahim Eltara
KETIKA JERITAN TAK LAGI DIDENGAR
Suara-suara kami mati perlahan,
ditelan janji-janji di atas mimbar kayu.
Di bawah, anak-anak riang menerbangkan layang-layang,
merah-putih menari di angkasa,
diiringi lagu Indonesia Raya.
Tangan legam mendekap lumpur,
perut lapar memeluk cangkul.
Lelaki beruban menjunjung terik matahari,
memikul beban yang kian sarat.
"Berapa harga sebuah suara?" bisik mereka di ujung pematang.
"Jika padi yang ditanam hanya melahirkan utang,
dan lahan kami terus tergerus
digilas bunga tunggakan yang berlipat-lipat."
Hari ini, anak-anak belajar lapar.
Air mata mereka mengetuk pintu kaca gedung jawatan,
bukan meminta sesuap nasi,
tapi menggugat janji yang dulu bergema di langit.
Tangan tak lagi mampu menengadah,
sebab doa-doa telah kehilangan lafaz,
dijarah janji-janji dari pengeras suara.
Di bawah bendera yang berkibar,
anak-anak berlatih memanjat pinang,
lelaki beruban itu pun belajar merawat diam.
Sebab diam adalah senjata paling sunyi
yang tak lagi bisa mereka rampas.
Sumbawa, 6 Agustus 2026
A.Rahim Eltara, lahir di Sumbawa 16 Oktober 1962. Gemar menulis puisi sejak tahun 1980. Kini telah menerbitkan antologi tunggal: Kepak Sayap Rasa (2011), Ladang Kekasih (2018), Air Mata Zikir Sebening Mata Air Cinta (2023), Ibu Doa dan Cinta ( 2024), 66 Sajak Menguak Jejak (2026), Baguru (2026), dan 101 antologi bersama.
Penerima Anugrah Bahasa dan Sastra Tahun 2018. Pemenang Puisi Pilihan Gerakan Akbar 1000 Guru Menulis se Asean Tahun 2018, Juara 3 Lomba Menulis Puisi Hyang Pustaka Tahun 2024, Peringkat 10 Lomba Menulis Puisi 3 Negara Serumpun Tahun 2024, Juara 2 Lomba Menulis Puisi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Tahun 2025.