KEMARAU, KE MANA PERGINYA IKAN Anas Bachtiar Arief

Anas Bachtiar Arief

KEMARAU, KE MANA PERGINYA IKAN

Di dasar kali, perahu kehilangan air, lunasnya menggesek tulang-tulang pasir. Nelayan menebar jala ke udara— yang tersangkut cuma bayang-bayang dari musim yang ingkar pada kalender.
Ke mana ikan-ikan itu pergi? Muara telah lama menjual lidahnya, hulu menyimpan lumpur dalam peti, dan hujan, entah sejak kapan, tak lagi mengenali alamat sungai.
Seekor bangau mematuk pantulan bulan. Paruhnya pulang tanpa darah. Di kejauhan, mesin-mesin mengunyah malam, mengirim gemuruh ke bukit-bukit yang mulai botak di kepala.
Nelayan itu mengangkat jala. Lubang-lubangnya lebih banyak daripada sisik yang pernah berkilat di antara jemari anaknya.
Ia tidak mengutuk langit. Langit hanya atap yang terlalu tinggi bagi orang-orang yang kehilangan sumur. Ia pun tak menyalahkan matahari— api tak pernah memilih tubuh mana yang akan dijadikannya abu.
Tetapi di tepi perahu, ada sesuatu yang tak ikut mengering: sepasang mata kecil milik anaknya, menatap dasar kali seolah di sana masih tersimpan seekor ikan terakhir yang bisa dibawa pulang untuk makan malam.
Malam turun. Bulan menggantung seperti uang logam di tangan pengemis. Nelayan itu mendayung ke tepian, membawa jala kosong, membawa perahu yang makin ringan, membawa pertanyaan yang tak sanggup dibeli siapa pun:
Jika sungai kehilangan ikan, siapa yang sedang memiskinkan kehidupan?

Surabaya, 09 Oktober 2026