KALA ANGIN SURABAYA UTARA MENGELUS WAJAHKU DI PANTAI LAMONGAN, Rusli

Rusli

KALA ANGIN SURABAYA UTARA MENGELUS WAJAHKU DI PANTAI LAMONGAN

Kususuri lintasan berliku di ujung Februari 2026
Dari jalan tol, rangkaian alas roban, dan menembusi pinggiran pantai utara
Menghirup udara kala purwawarsa Kuda penuh kegamangan
Melukis kenangan 'tuk menoreh puisi, prosa, dan penguraian makna hidup.
Di Pesisir Pantura Lamongan
Kesegaran dan kesejukan tengah hari berpadu
Dengan aneka fauna laut nan menggoda,
Dengan selaksa flora botani nan syantik mendayu,
Melipur lara ku dan lara-lara mereka berpeluh mencari upajiwa.
Sayup-sayup terdengar melodi awal milenia:
Mimpi Terindah, Liu Xing Yu, dan Hao Siang Hao Siang
Membebat nestapa hati
Kala mitos hidup nan dijamin seakan sulit kugapai.
Sayup-sayup tercium imaji Asia Timur, Amerika Utara, dan Antero Nusantara Seakan bepadu bangkitkan prestise dan prestasi membara dalam dada.
Sayup-sayup terlihat kulineria kriya mahasiswi, lapak-lapak niaga nan bersahaja, serta kantor-kantor minimalis
Turut warnai cerita suka dan duka kala kucari makna menempuh hidup baru.
Kala Angin Surabaya Utara mengelus wajahku di Pantai Lamongan,
Kuceritakan tentang suka dan duka nan terlewati padamu.
Kala Angin Surabaya Utara mengelus wajahku di Pantai Lamongan,
Ingin kulukis kilaunya emas pertama
Raihan Little Sister merengkuh Bumi Airlangga dengan keringat peluh.
Kala Angin Surabaya Utara mengelus wajahku di Pantai Lamongan,
Ingin kugores cerita-cerita perjuangan ciptakan nilai arta kehidupan dan tegakkan prestasi sinarkan kesejatian diri.
Kala Angin Surabaya Utara mengelus wajahku di Pantai Lamongan,
Akhirnya kurengkuh deskripsi novel pelipur lara
'Kan kutorehkan saat widya kinarya t'lah menjemput
Dan jargon 'hidup nan dijamin' hanyalah permainan badut-badut berdasi
Miskinkan sukma para jelata.
Kala Angin Surabaya Utara mengelus wajahku di Pantai Lamongan,
Biarlah engkau jadi inspirasi seni
Nan tak pernah mati
Di sepanjang gesang ini.
(Rusli New)