Jangn Tuntut Hatiku Membaca, Malik
Malik
Jangn Tuntut Hatiku Membaca
Wahai sang penabur kata
Jangan tanya tetes airmata
Hanya karena tintamu basah oleh pilu
hatiku sudah penuh tangis dan rindu
Jangan paksa dadaku menadah
Hujan yang membadai di hatimu
Aku sering membaca dengan amanah
bukan hati terpaksa seperti pintamu
Ku nyalakan suluh pelita di rongga dada,
tampaklah jelas raut roman wajah luka
Kubiarkan dia menari di altar hiperbola
ku peluk semua titik, ku rangkul semua koma
Namun apa yang kutuai?
pelan-pelan rasa muak ini mulai
terlalu ramah sanjung kau semai
akhirnya? aku tersudut di lidah badai
Maka izinkan aku membaca dengan akal,
aku yakin suara hatimu itu sangat sakral
biar aksara hati ini tidak menjadi embun
jadi gunung kecewa sengaja di timbun
Jika puisimu kapal,
Biarkan ia bebas berlayar
Jangan labuhkan di dermaga ku
silahkan singgah untuk sekedar bekal
jika dia kau jadikan senjata kata
ku baca sebagai bunga yang di tata
ku beri jambangan berbetuk pigura
agar para penyintas kata tak sembarangan memetiknya.
jika kapal itu kehilangan radar
jangan tuntut aku jadi mercusuar.
Aku lelah jadi cahaya di ujung karang
Untuk bahtera yang tak pernah pulang.
jika itu senjata kata
aku lelah terus terluka
jangan tuntut ku baca dengan hati
jasad jasad puisi ini sudah lama jadi tumbal ambisi.
*Medan, 16 Juli 2026 *