JAKARTA, TUNGGU AKU DI STASIUN BEOS, S Ratman Suras (069)
S Ratman Suras
JAKARTA, TUNGGU AKU DI STASIUN BEOS
Ketika peluit kereta menjerit
aku masih terbungkus sunyi
derit roda besi mereda
tumpukan-tumpukan mimpi tumpah
meruah pada peron stasiun tua
segerombolan semut desa menyerbu
menyunggi kardus bekas berisi mimpi
menaklukan kota yang sumuk dan bau
dingin rel beku dalam pelukan waktu
hari-hari telah terlanjur digerogoti sepi
di kota harus ada gerak
jika ingin langkah tetap tegak
Hari itu aku meniup ubun-ubunmu
dengan puisi yang belum jadi
dari atas bus kota yang penuh sesak
sambil bergelantungan jajakan koran
antara cawang-priok, kota-cililitan
paras ac, ppd bus tingkat, metro mini
gunung sahari, senen, pramuka, galur cempaka putih, cawang, balik beos
Ada mingguan yang menawan
kode buntut, porkas trengginas
jadi idola banyak pikiran jadi tak waras
jika tembus buat nambah beli beras
orang miskin ditelikung pikiran was-was
Aku temukan rindu yang lain
swadesi, simponi, serta mutiara
edisi koran mingguan yang mempesona
berhamburan puisi-puisi sepi
tumbuh subur dalam hati
di sela-sela warung sastra mbak diha
dari terbit sore aku membaca jajak md
dari yang lain aku bermain-main mimpi
jadi penyair yang mengalir
belajar mengeja membaca peta gelap
wiji thukul, yang selalu muncul
kriapur menjulurkan kematian
afrizal malna jadi fenomena kegelapan
tiang hitam, langit kelam kota muram
diguyur hujan bertubi-tubi mengirim
puisi-puisi sepi itu ke jantung hati
aku kabarkan kepada gelombang radio
pemancar puisi-puisi malam
sekedar kabar dari jiwa yang baru mekar
walau kota makin bersisik cemas
diburu atau terbunuh waktu
sepuluh tahun berlalu
hanya menumpuk puisi-puisi sepi itu
delapan puluh tiga hingga sembilan puluh tiga
tanpa pamit aku minggat ke sumatra
Jakarta, dari jauh kini aku peram rindu
pada jalananmu bertumpuk-tumpuk
kemacetan dan puisi-puisi protesku
yang membentur gedung-gedung jangkung
juga bulungan, tim, grogol, pademangan
terpapar banjir rob pantai monyet ancol
tapi, tunggu aku di stasiun panghabisan itu
sebelum ajal tiba, aku ingin ke sana!
Tanjung Anom, awal Oktober 2025