Imam Budi Santosa
**Imam Budi Santosa **, lahir di Magetan 28 Maret 1948. Menamatkan SPbMA dan bekerja di perkebunan teh Kendal. Dan pindah di Dinas Perkebunan Jateng. Th 1987 mengundurkab diri sebagai Pegawai negeri. Mendirikan PSK bersama Umbu Landu Paranggi th 1969. Puisinya ada di antologi Sepanjang Bayangan, 1970, Tugu 1986, Tonggak 1987 Pesta api 4 Penyair , Basis, Balairung, Citr Yogya , Pusara dll.
Puisi-Puisi Iman Budhi Santosa
CATATAN HARIAN SEORANG SULTAN
Sekian purnama kelelawar-kelelawar menyerbu
ke dalam semadiku. Melati kenanga bersengketa
asap dupa tak berbau, keris tombak berdiri
berontak dari genggaman para abdi
Kemudian remang ada pada tiang, mahkota lusuh
membisu di sudut ruang. “Siapakah engkau
jika istana tinggal bayang-bayang
lalat nyamuk menari di pagelaran
burung-burung gereja bersarang di bubungan?”
Sesekali aku berdiri mencari puncak Merapi
sebelum gerbang terkunci. Sesekali meniti buih
laut selatan, menapaki pasir karang
sambil mengaca, “Aku bukan raja?”
Sebab, tikus mulai ada di kamar pusaka
burung malam seperti mengecam
kota dan tembok benteng yang berseberangan
Sekian musim bercermin pada rumput
pada taman yang berlumut, sisa keraton
tinggal bangunan tua dan rindang pohon.
“Jangan panggil aku Gusti?”
Tapi, mereka nekat ngapurancang di depan cepuri
menunduk pada huruf-huruf Jawa yang tak terbaca
oleh lidah yang lama mengembara
1997
ORANG-ORANG BATIK USIA SENJA
BELAKANG KERATON YOGYAKARTA
Masih dengan hati ia memainkan canting
malam yang bening. Meniupnya sesekali
menusuknya dengan ijuk, membuang karat daki
begitu khusyuk. Kadang bersila, atau bersimpuh
seperti luluh (menitiskan ruh)
janji sehidup semati lirik sidamukti
merawat kawung, kiblat tak pernah suwung
Masih dengan sabar ia melukis prasasti
stupa candi, mawar teratai, sampai kijang
dalam dongeng bahari. “Biarlah jika uban
dan keriput sudah mengunci. Akan kusambung
guratan pujangga, kisah suci Mahabharata
menjadi sari sutera, permadani tanah Jawa.”
Maka, ia tersenyum (kendati leher tanpa kalung)
santun dengan nasib yang terus mengapung
Masih dengan bijak ia merangkak
dari hari ke hari, mori demi mori
tanpa sangsi. “Nanti selimuti tubuhku
dengan kain panjang. Ikat daguku dengan selendang
seperti dulu ketika ditimang
lahir ke bumi
dengan telanjang.”
Kini, aku menunduk. Ngapurancang dan takluk.
Disini masih ada cinta. Masih ada jari
meracik pernik cantik, membatik wajah Srikandi
menatahnya sebagai wasiat di atas kening sendiri
1997
SETANGKAI BUNGA BUAT IBU GURU TK
Dengan mulut mawar hati melati, ia mengajak
anak-anak berdiri, berbaris, menggambar
dan menyanyi. Menyelipkan merpati dan kupu-kupu
ke dalam buku, bersama angka-angka
bilangan demi bilangan yang membuat dunia
terbuka.
“Bintang memang jauh, anakku.
Tapi, engkau punya kaki untuk berlari
mata untuk mencari dan tangan untuk menggapai.”
Seperti sinar matahari, ia menguak jeruji
menorobos kisi-kisi. Langkahnya seringan angin
dadanya serupa permadani atau padang rumput
(tak ada kabut, lengkung cakrawala berpaut).
Ia tak menjual madu, janji-janji beledu
ia hanya patut disebut ibu. Ibuku ibumu
karena ribuan anak telah melesat ke angkasa
lewat pundaknya. Tapi, ia tetap di sini
seperti jembatan, menunggu jejak-tapak anak
berlari dan menginjak, yang membuat wangi
nama dan kuburnya kelak
2000
MUSIM KETIGA DI TEPI SUNGAI OYA
Sembilan anak laki perempuan, telanjang
menyerupai anggang-anggang, mencari tempat
mandi, karena air tinggal sebatas mata kaki.
Seperti iba dan ingin menjaga
angin dan sepi pun setia menemani
juga derit bambu ori
sehingga hutan
serasa taman Suwelagiri
Ah, akankah sekering lembah ini
hidup mereka nanti, meskipun sungai Oya
konon, tak pernah mati?
Sembilan anak laki perempuan, menghitam
ditelan buih muntahan zaman
ketika lubuk tinggal batu
kurun waktu mustahil kembali
mengalir ke hulu
2002