Hujan Tanpa Pelangi, Wahdi Anwar
Wahdi Anwar
Hujan Tanpa Pelangi
Kuserahkan diriku,
di antara riuhnya hujan pilu,
seolah tiap tetesnya tahu,
di mana luka bisa bertamu.
Kubiarkan sedih berjatuhan sunyi,
bersama hujan malam ini,
menyelinap ke dasar nurani,
seperti rahasia yang lama kucari.
Kurelakan hati menggigil letih,
di tengah beku yang tak memilih,
membiarkannya belajar sekali lagi,
meski tubuh goyah berkali-kali.
Sebab aku mengerti,
setelah badai ini berhenti,
tak akan ada tujuh warna,
yang tersenyum di badan masa.
Kadang yang tersisa,
hanya langit hampa,
yang mengajari cara,
bersahabat pada luka.
Tenggarong, 18 November 2025
Wahdi Anwar