Hikayat Kali Keramat Batang (Babad Alas Roban), Kawe Shamudra

Kawe Shamudra

Hikayat Kali Keramat Batang
(Babad Alas Roban)

Tersebutlah seorang satria, namanya terpahat di Kali Keramat. Demi sebuah janji suci, Raden Bahureksa rela menuntun angin dan memeluk akar pepohonan. Semadi. Mencari jalan memerdekakan rakyat dari kecemasan. Ia bermimpi membangun bendungan dan lumbung pangan.
Tapi tak semudah
memecah gerabah
Dan malam pun membuncah. Bumi Akandali siaga. Para siluman gentayangan meninggalkan ranggon. Dadungawuk mengamuk, bersekutu dengan raksasa Kala Drubiksa. “Sepertinya akan lahir pahlawan. Ayo kita lawan. Kita hancurkan mimpi-mimpi Bahureksa!” teriak Dadungawuk.
Awan meradang, angin bertiup kencang.
Sungai Lojahan menangis mengalirkan kutukan amis. Darah perang tak seimbang, melawan mantera Pedang Swedang yang menguap lewat celah kamar Putri Drubiksawati.
Dengan langkah pelan dan senyum menawan, Raden Bahureksa menemui Sang Putri. “Berikan rahasiamu padaku,” sapa Bahureksa. Dan kamar pun seketika jadi mawar. Drubiksawati bagaikan menghirup wangi yang belum pernah singgah di dadanya.
Dan ia pun jatuh iba.
“Baiklah, Paduka Muda. Bawalah pedang ini, tapi jangan kau bunuh ayahku,” kata Si Jelita setengah terbata.
Di tepi kali Lojahan Bahureksa menemukan Kala Drubiksa tertawa jumawa. “Akulah sang perkasa penguasa sungai. Aku akan menidurkan air dan bebatuan,” teriak Kala Drubiksa.
(rupanya) Ia tak tahu tuah pedang Swedang telah pindah dari tangan putrinya.
“Kunci bibirmu, wahai Kala Drubiksa!
Kini kau tak lagi punya mantera, bahkan kau tak mampu lagi memacah batu-batu karang,” sergah Bahureksa.
Pedang Swedang pun dihunuskan.
“ow, Swedang!
ow, manteraku hilang!”
Dan di akhir Perang, Kala Drubiksa lari tunggang-langgang ke pantai Kalidang
bersembunyi di celah batu karang.
Batang, 2021