HARRY SOEWANDITO oleh Harry Tjahjono
HARRY SOEWANDITO
(19 Oktober 1952 - 7 Februari 2000)
ADA PERSAHABATAN yang hadir seperti rumah, teduh, terbuka, dan membuat kita ingin berdiam lebih lama. Begitulah pertemuan saya dengan Mas Harry Soewandito, sepupu saya yang sejak awal bukan hanya kerabat, tapi pelindung yang mengulurkan tangan saat hidup saya masih berayun di antara idealisme dan kenakalan masa muda.
Tahun 1978, saya masih hidup dengan cara yang bisa disebut bohemian. Saya bekerja sebagai bartender di nite club Niagara, kawasan Monas—tempat lampu-lampu temaram bercampur dengan tawa, asap rokok, dan obrolan panjang malam. Hidup saya serupa sajak yang belum selesai, bebas, liar, dan penuh kemungkinan. Hingga suatu hari, Majalah Gadis mengundang saya ke acara temu pengarang dengan para pembaca novel saya, "Selamat Tinggal Duka". Di situlah takdir mempertemukan saya dengan Mas Harry.
Mas Harry datang dengan kamera tersimpan di tasnya. Gayanya tenang, matanya tajam tapi ramah—seperti hendak memotret bukan hanya wajah, tapi jiwa orang yang dihadapinya. Ia sudah dikenal sebagai fotografer berbakat. Banyak yang tahu, dialah yang jadi model tokoh Dirty Harry, fotografer di novel "Ali Topan Anak Jalanan" karya Teguh Esha. Figur yang bebas, berani, dan sedikit misterius—seperti dirinya sendiri.
Pertemuan itu membawa saya ke babak baru. “Tinggal saja di Puri Mutiara,” katanya ringan, seolah menampung seorang pengembara yang kebetulan singgah. Dari situlah saya mengenal para seniman Bulungan, dunia yang kemudian membentuk banyak hal dalam diri saya sebagai penulis. Puri Mutiara menjadi semacam bengkel kreatif: tempat berdiskusi, berdebat, tertawa, dan bermimpi. Di sana, Mas Harry selalu hadir dengan motor besarnya sebagai sosok yang melindungi saya—tidak dengan banyak kata, tapi dengan tindakan sederhana dan keberadaannya yang menenangkan.
Kami sempat bekerja sama di beberapa majalah: Intan dan Sarinah. Dalam kerja, Mas Harry selalu sabar, rapi, dan tahu bagaimana memperlakukan karya orang lain dengan hormat. Saya belajar banyak darinya tentang disiplin, tentang cara menjaga estetika tanpa kehilangan hati. Ia fotografer yang punya empati; bagi Mas Harry, setiap gambar adalah kisah manusia, bukan sekedar komposisi cahaya.
Saya mengenalnya sejak kecil di Madiun. Ia kakak sepupu yang selalu menyapa dengan tawa, sementara saya lebih banyak diam dan mengamati. Kami beranjak dewasa di jalan berbeda, tapi nasib membuat kami bertemu lagi di Jakarta—dua anak kampung yang mencari makna di tengah riuh kota. Dan dalam pertemuan itu, saya selalu merasa Mas Harry adalah pelindung saya. Mungkin karena ia melihat saya seperti adik sepupu yang berantakan, mungkin juga karena darah dan kenangan masa kecil membuat kasih itu tumbuh begitu saja.
Saya sebaya dengan Mas Bens Leo, adik kandungnya—seorang jurnalis musik terkemuka. Kini, keduanya telah berpulang. Tapi dalam ingatan saya, Mas Harry tetap hadir sebagai sosok yang menuntun dengan keteduhan. Dari Mas Harry, saya belajar tentang kehangatan keluarga yang tidak perlu banyak diucapkan, cukup dirasakan lewat perbuatan.
Saya menulis kenangan ini di bagian akhir, oleh karena kesulitan mencari fotonya. Mas Harry tidak pernah memotret dirinya sendiri. Syukurlah, dengan bantuan Jeng Wiwien Muchlis, Mas Ernawan B Prianggodo dan Mas Jodhi Yudono yang pernah membuat lagu untuk Mas Harry, saya terhubung dengan Mbak Mar, istri Almarhum. Sejak Mas Harry wafat, saya memang seperti terputus dengan sepupu-sepupu yang sebagian besar sudah berpulang. Saya senang dan bersyukur dapat terhubung kembali.
Mengenang Mas Harry, seperti mengenang masa ketika hidup penuh keberanian dan kejujuran. Masa di mana seniman hidup bukan untuk kaya, tapi untuk jujur pada nuraninya. Dan Mas Harry, dengan kameranya, telah mengabadikan bukan hanya gambar, tapi juga semangat zaman itu.
Mungkin, begitulah sahabat sejati—tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal di dalam kenangan, dalam rasa terima kasih yang pelan tapi abadi.***
Hartjah
17102025