Gerimis di Penghujung Kemarau, Reis Ersyad M

Reis Ersyad M

Gerimis di Penghujung Kemarau

Gerimis turun tipis-tipis di penghujung kemarau,
menyejukkan kerongkongan yang dahaga
sepanjang badai tandus menerpa.
Walau hanya gerimis kecil ritmis,
ia sebentar mampu mengangkat aroma tanah yang tersiram.
Lumayan...
cukup untuk menekan debu-debu jalanan
yang biasanya bebas beterbangan menyumbat paru-paru kami.
Namun...
Ke mana air gerimis ini akan dialirkan?
Apakah ia akan tenggelam ke dalam drainase kota yang mampet oleh limbah?
Atau mengalir ke parit irigasi yang kering, yang entah dari mana sumber airnya?
Atau dipaksa masuk ke pipa-pipa besi perusahaan air minum daerah?
Yang pada kenyataannya...
Airnya tak pernah bisa langsung diminum,
dan ngocornya pun pelit, hanya dua hari sekali!
Maka di tepian malam yang sunyi ini,
kami memandang ke langit dengan mata yang lelah.
Menghirup wangi tanah yang basah sesaat,
sembari merenungi nasib yang terus ditawar oleh birokrasi.
Kami bersyukur pada gerimis yang jatuh ke bumi,
tetapi kami tetap menggugat...
pada keran-keran kekuasaan yang sengaja dikunci!
Sebab esok hari, ketika gerimis ini menguap,
dahaga kami akan kembali menagih janji.
Dan sunyi yang kami rawat malam ini,
adalah kesabaran rakyat...
yang sedang menghitung detak.