FALSAFAH KEMARAU, Bambang Widiatmoko (017)
Bambang Widiatmoko
FALSAFAH KEMARAU
Di tepian satu-satunya sumur
dengan begitu banyak orang melihat kedalamannya
Apakah masih ada sisa air keruh yang bisa ditimba?
Lalu bersama-sama berjalan menuju
penampungan air di bawah pohon coppeng
di belakang baruga.
Saling beradu pandang dengan orang-orang
yang terlebih dahulu datang
dengan badik terselip di pinggang
Hidup terasa bagai kaleng yang diikat tali
dan dijatuhkan ke dalam permukaan sumur.
Kemarau telah mengajari arti kesetiakawanan dan permusuhan
dalam menghadapi keberlangsungan kehidupan.
Makassar, 2005-2026