Di Setiap Sudut Musim, Mayek
Mayek
Di Setiap Sudut Musim
Masih aku ingat
Pagi itu ketika semua begitu sederhana, langkah kaki terasa ringan, dan tawa hadir di setiap sudut musim.
Angka-angka dalam kalender seperti menari, menyelinap di antara rindu
yang mencerminkan langit biru pada sepasang pipi belia.
Namun, waktu adalah pencuri yang sunyi. Ia terus melaju, melangkah kian menjauh, dan menarik kita ke dalam cinta yang begitu berisik, seperti suara token listrik.
Kini, kita berdiri di tempat yang berbeda, memandang dalam satu ruang, dua cerita tergenang, terjebak dalam kecanggungan kata-kata yang hendak ku jadikan puisi
Pagi itu di setiap sudut musim kita begitu akrab,
namun kini terasa asing, dalam percakapan
*
Pondok pasar Oktober 2026*