Di Negeri Para Maling, Yohanes Moeljadi Pranata
Yohanes Moeljadi Pranata
Di Negeri Para Maling
Di negeri para maling,
kejujuran berdiri sebagai terdakwa.
Bukan karena ia mencuri,
melainkan karena ia tak mau ikut mencuri.
Pengabdian dipandang mencurigakan.
Integritas dianggap ancaman.
Orang-orang yang berjalan lurus
mengganggu pesta mereka yang bengkok.
Di ruang-ruang yang megah,
topeng diberi gelar kehormatan.
Sedang wajah yang tulus
dituduh menyimpan dosa.
Mereka yang setia pada nurani
diborgol dengan aturan yang dipelintir.
Mereka yang mengabdi tanpa pamrih
dibayar dengan fitnah dan kesunyian.
Betapa aneh negeri ini.
Yang kehilangan malu menjadi hakim.
Yang kehilangan hati menjadi penguasa.
Sedang yang menjaga martabat
justru duduk di kursi pesakitan.
Namun sejarah selalu memiliki ingatan.
Jeruji besi
tak pernah sanggup memenjarakan kebenaran.
Ia hanya dapat mengurung tubuh,
tetapi tak mampu membelenggu nurani.
Waktu adalah saksi
yang tak dapat dibeli.
Dan hati manusia,
betapa pun lama dibungkam,
akan selalu mengenali
mana yang benar
dan mana yang pura-pura benar.
Kelak,
ketika palu sejarah diketukkan,
tak ada lagi jabatan.
Tak ada lagi seragam.
Tak ada lagi kuasa
yang mampu membeli putusan.
Yang tersisa hanyalah:
siapa yang mencuri,
dan siapa yang tetap setia
meski harus dipenjara.
Sebab di negeri para maling,
penjara bukan selalu tempat bagi penjahat.
Kadang...
penjara adalah alamat terakhir
bagi mereka
yang menolak
menjadi maling.
Dan ketika hari penghakiman tiba,
jeruji akan berkarat,
mahkota akan berdebu,
tepuk tangan akan lenyap.
Yang tetap berdiri hanyalah kebenaran.
Sebab sejarah tak pernah menerima suap.
Dan Tuhan
tak pernah salah
menjatuhkan putusan.
YMP
Blessings, 30 Juni 2026