DELAPAN PULUH SATU TAHUN MEMANJAT, Masruswian (006)
Masruswian
DELAPAN PULUH SATU TAHUN MEMANJAT
Kemerdekaan digantung pagi itu
pada tiang yang berkeringatkan minyak.
Di pucuknya ada nasi
untuk meja seorang ibu,
buku milik anaknya,
dan secarik resep
yang semalam dilipat sang ayah
di bawah bantal.
Mereka datang membawa tubuh.
Telapak berbau lumpur,
bahu menyimpan dengung mesin,
punggung mengeringkan garam laut,
jemari berkapur
yang terbiasa mengeja masa depan
di papan hampir hitam.
Semua tubuh itu disusun.
Yang kuat menjadi dasar,
yang lemah belajar menguatkan,
yang jatuh segera digantikan,
sebab selama delapan puluh satu tahun
mereka diajari bahwa luka
adalah harga sebuah sorak.
Seseorang terus naik.
Ia menginjak lumpur di kuku,
debu di bahu,
garam di punggung,
kapur di jemari.
Ketika mencapai puncak,
ia menendang tangan terakhir
yang masih mencoba mengangkatnya.
Di bawah,
deretan sepatu yang tak mengenal tanah
berjalan menuju panggung,
menggunting pita,
menghitung tepuk tangan,
lalu membingkai tubuh yang jatuh
sebagai pesta rakyat.
Seorang anak menerobos kerumunan,
memungut kancing baju ayahnya
dari rumput yang terinjak.
Sorak mendadak kehilangan mulut.
Seluruh bahu itu pun bergerak.
Bukan ke atas.
Kini kami datang bukan untuk memanjat.
Kami datang untuk bertanya,
siapa yang mengubah hak menjadi hadiah?
Siapa yang melumuri jalan ke puncak,
lalu menyalahkan telapak kami
setiap kali tergelincir?
Mengapa nyala di dapur,
huruf-huruf di mata seorang anak,
dan tidur yang terbebas dari nyeri
harus digantung begitu tinggi,
sementara tangan yang tak pernah memanjat
dapat meraihnya tanpa keringat?
Satu demi satu kami turun,
membawa pulang punggung,
kepala, serta telapak kami
dari susunan yang meninggikan seseorang.
Kami berhenti
menyusun tubuh sendiri
menjadi tangga.
Di puncak, seseorang memeluk tiang.
Segala hadiah masih bergoyang,
tali berderit,
minyak menetes
ke tanah yang telah kami tinggalkan.
Dari kejauhan kami mendengar
sesuatu patah.
Lalu sebuah bayang-bayang panjang
rebah melintasi panggung
sebelum tepuk tangan
menemukan kembali
kedua telapaknya.
Barabai 6 Agustus 2026
*Masruswian, lahir di Barabai, Kalimantan Selatan, pada 7 Desember 1982. Aktif menulis puisi sejak remaja dan karyanya termuat dalam berbagai antologi puisi tingkat daerah maupun nasional. Buku puisinya, Mozaik Hening (2026), menjadi salah satu jejak kepenyairannya. Ia beberapa kali meraih Juara I Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional, serta biografinya tercantum dalam Leksikon Penyair Kalimantan Selatan (1930–2020). *