Dari Semarang hingga Eden Melankolia, Naning Scheid Tak Henti Menulis Puisi

Dari Semarang hingga Eden Melankolia, Naning Scheid Tak Henti Menulis Puisi
Puisi adalah catatan bermakna yang memiliki arti luas dan bahkan ada yang tak dinengerti oleh penulisnya sendiri karena jari-jari itu bergerak sendiri ketika menulis. Juga bagi seseorang yang meninggalkan Tanah Airnya puisi-puisi itu lahir di sepanjang tempat yang disinggahinya. Apalagi di negeri jauh nun di sana di Eropa negeri yang ceritanya menjadi santapan pembaca yang haus pengetahuan.
Tentu saja tempat-tempat yang menjadi kenangan atau memiliki tragedi berkesan tak lepas dari tangan tangan penyair. Sehingga puisi pun bagai sejarah perjalanan diri sang penyair. Tentu menyampaikannya dalam gaya bahasa puisi sehingga dalam berbagi cerita itu terasa dibawa ke sana. Demikian Naning Scheid penyair Indonesia yang tinggal di Belgia, Eropa sana.
Untuk mengapresiasi puisi 'Perjalanan itu, yang dikumpulkan dalam antologi Melankolia kita lihat penggalan puisinya:
Eden Melankolia
//Dalam rupa musim panas, jalan setapak hijau bersemak
Menyelimuti dada telanjang di sepanjang sekat Gibraltar/
Matahari di atas kastil memekik, memanggil kita,
Yang bersembunyi dan menahan tawa,
Di bawah pohon zaitun tua. /
/.../
/Saat gaduh di surga memanggil namaku
Mulutku terlihat aku membisu
Karena aku tahu, bukan kau yang menyeru. /
/Ribuan waktu tlah berlalu
Ramut memutih satu persatu
Telah bersembunyi aku
Tapi kau, tak jua menemukan. //

Dari bait-bait puisi Naning tampak bernas penuh arti, menunjukan ia penyair yang diperhitungkan. Penulis menghargai siapapun putra Indonesia dimana pun berada, jika memang berkarya sastra tak ada halangan utuk terus berkarya walau berada nun jauh di sana. Buktinya Naning Scheid bisa menerbitkan antologi di Indonesia meski berada di Belgia.
(Rg Bagus Warsono, kurator sastra di Lumbung Puisi).