CATATAN DI ATAS KALENG BESI Anas Bachtiar Arief
Anas Bachtiar Arief
CATATAN DI ATAS KALENG BESI
Di bengkel dunia,
kulihat enam bejana
berdiam dalam lingkar besi-
enam murid
menunggu tangan Guru
yang tak pernah tergesa.
Tiga bersaudara alkyd,
ringan bagai angin musim semi,
membawa warna
agar mata manusia
belajar mencintai keindahan.
Tiga kesatria epoxy,
diam bagai batu
di dasar laut,
memikul beban
yang tak pernah dipuji.
Merah Primer
berdiri paling awal.
Ia tidak banyak bicara.
"Aku bukan kemuliaan.
Aku tanah
yang rela diinjak akar.
Aku pintu
yang tak pernah dipotret.
Aku lapisan pertama
yang harus menanggung
segala yang datang sesudahku.
Tanpaku,
warna hanyalah wajah
yang menempel sementara.
Ia akan mengelupas
ketika waktu
mulai bertanya."
Di sudut lain,
Plum-
ungu yang lahir
dari pertemuan luka
dan malam.
Ia berkata lirih,
"Aku tidak menutupi karat.
Aku memeluknya
sampai ia berhenti
menjadi karat.
Sebab sesuatu
kadang tidak sembuh
karena dilawan.
Ia sembuh
ketika tidak lagi
diberi tempat
untuk menyebut dirinya."
Lalu Biru
datang bersama Abu-Abu.
Keduanya tertawa
di bawah cahaya.
"Kami wajahnya.
Kami yang disapa matahari.
Kami yang dikenali mata.
Kami yang membuat
permukaan terlihat selesai.
Tetapi jangan iri
kepada yang tampak.
Yang tampak
sering kali
paling mudah retak."
Aku diam.
Enam kaleng itu
lebih pandai berbicara
daripada banyak kitab
yang dibaca
tanpa pernah menjadi sunyi.
Di atas meja
tak ada mimbar.
Tak ada khutbah.
Hanya bau cat,
besi,
debu,
dan tangan-tangan
yang bekerja dalam diam.
Kemudian datang
seorang tukang cat.
Ia membuka
satu demi satu
tutup besi.
Base dituangkan.
Hardener menyusul.
Dua benda
yang berbeda sifat
dipertemukan
dalam satu wadah.
Batang pengaduk
masuk perlahan.
Sekali putar.
Dua kali.
Terus berputar.
Tidak tergesa.
Tidak marah.
Tidak bertanya
kapan selesai.
Aku bertanya,
"Mengapa harus
diaduk selama itu?"
Ia tersenyum.
"Karena bertemu
belum tentu menyatu.
Dua hal
bisa berada
dalam satu wadah
namun tetap menjadi
dua dunia.
Yang membuat kuat
bukan sekadar pertemuan.
Melainkan kesediaan
untuk kehilangan batas."
Batang itu kembali berputar.
Pelan.
Dalam.
Tak terdengar
apa pun selain
gesekan kecil
di dalam kaleng.
Saat itulah
aku melihat sesuatu
yang tidak pernah
diajarkan oleh warna.
Nafsu masuk ke dalam adukan.
Keinginan menyusul.
Kesombongan larut perlahan.
Luka tidak dibuang.
Takut tidak diusir.
Rindu tidak dipadamkan.
Semuanya dibiarkan berputar
dalam satu kesunyian.
Seperti seorang salik-
yang mula-mula sibuk mencari jalan,
lalu mencari tanda,
lalu mencari cahaya,
lalu mencari Wujud,
hingga pada suatu malam ia kehabisan
segala yang hendak dicari.
Ia duduk.
Diam.
Tidak lagi mengejar bayangan.
Tidak lagi mengukur jarak.
Tidak lagi bertanya
seberapa dekat dengan Yang Dicari.
Sebab pertanyaan itu sendiri
perlahan-lahan menjadi debu.
Yang tersisa hanya pengadukan.
Nafsu dengan sabar.
Keinginan dengan ridha.
Luka dengan dzikir.
Rindu dengan sabar.
Diam dengan diam.
Sampai batas-batas yang dahulu dipertahankan
mulai kehilangan arti.
Bukan hilang karena dihancurkan.
Melainkan hilang karena tak lagi dibutuhkan.
Seperti warna yang tidak lagi bertanya siapa paling indah.
Seperti primer yang tidak meminta disebut berjasa.
Seperti epoxy yang memikul beban tanpa menunggu pujian.
Seperti Plum yang memeluk karat tanpa menyebut dirinya penyelamat.
Seperti Biru yang tidak sombong karena dipandang.
Seperti Abu-Abu yang tidak sedih karena tidak dipuji.
Dan seperti cat yang akhirnya mengerti:
ia tidak diciptakan untuk menjadi dirinya sendiri di atas permukaan.
Ia menunggu tangan yang bekerja.
Menunggu kuas.
Menunggu waktu.
Menunggu kering.
Menunggu diuji oleh panas, garam, air, angin, dan musim.
Barulah terlihat apakah ia benar-benar menyatu
atau hanya tampak menempel.
Begitu pula jalan.
Banyak yang tampak tenang sebelum diuji.
Banyak yang tampak dalam sebelum disentuh luka.
Banyak yang mengaku lebur sebelum kehilangan
apa yang paling dicintainya.
Maka Guru tidak banyak berkata.
Ia hanya mengaduk.
Sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Sampai tangan tidak lagi terasa sebagai tangan.
Sampai warna tidak lagi mengenali warna.
Sampai batas menjadi samar.
Sampai yang tersisa bukan pertanyaan
tentang siapa yang melebur-
melainkan siapa yang sejak awal mengadakan adukan.
Aku menatap kaleng-kaleng itu.
Enam bejana.
Enam warna.
Enam cara menanggung takdir.
Tak ada yang lebih tinggi.
Tak ada yang lebih rendah.
Sebab di tangan yang sama,
semuanya akan menjadi lapisan pada satu permukaan.
Dan ketika pekerjaan selesai,
tukang cat menutup kembali kaleng-kaleng itu.
Bengkel menjadi sunyi.
Warna-warna tidak lagi berbicara.
Aku pun pulang dengan tangan kosong.
Namun entah mengapa,
di sepanjang jalan terasa ada sesuatu
yang masih berputar di dalam dada.
Bukan cat.
Bukan warna.
Bukan hardener.
Hanya sebuah adukan yang belum selesai.
Mungkin itulah pekerjaan seorang salik:
bukan mencari warna yang paling indah,
melainkan membiarkan seluruh warna dirinya diaduk-
hingga tak ada lagi yang ingin menjadi warna utama.
Dan ketika kuas-Nya akhirnya menyentuh,
tak ada lagi yang bertanya: "Warna siapa ini?"
Sebab permukaan telah diam.
Cat telah menyatu.
Nama-nama telah luruh.
Dan yang tinggal hanya lapisan sunyi-
menunggu menjadi sesuatu yang dikehendaki-Nya