Bur Rasuanto


Bur Rasuanto (06 April 1937 – 15 Mei 2019) adalah seorang sastrawan dan eks wartawan Indonesia. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang penulis buku, cerpen, novel, dan skenario film.

Sepotong Jalan Raya

dengan tanda-tanda rintangan
selalu sepi
dan semakin sepi
bangunan agung menghadapnya
pengawalan ketat dan kebun bunga
patung telanjang pemanah purba
serta lampuan keristal dan kemilau kaca
dari kamar-kamar yang berbahagia

mimbar konsepsi yang bersejarah
telah diseret ke kamar pesta
sepanjang tahun, jantung waktu kian bernanah
dengan anggur slogan yang memabukkan
dengan cumbu-hasut yang menulikan
dengan nasib bangsa yang diperjudikan

Sumber: Mereka Telah Bangkit (1966)

15.Motinggo Boesje (ER, EYD: Motinggo Busye, nama lahir: Bustami Djalid) (21 November 1937 – 18 Juni 1999) adalah seorang sastrawan, sutradara, dan pelukis Indonesia.

Puisi Motinggo Boesje:

MALAM PUTIH
ada terasa bebas setelah segala menjadi abu
ada terasa sakit setelah hati dibelah sembilu
ada terpancang bulan menjadi cerah: bintang jadi terang
ada terpancang di hati: nyanyi merdu akan datang.

Ada yang takpernah kulihat: malam sejernih ini.

Sumber: Majalah Siasat, nomor 378 tahun ke VIII, 5 September 1954, halaman 26

ANGIN TIADA BEREMBUS
Musim-musim telah mengabadikan bunga-bunga yang,
sepagi ini akan tumbuh di tepi pantai sunyi.
Lalu datang angin melanda bunga di tepi pantai sunyi.

Angin yang lagi bicatara tidak apa-apa
atau sampaikan pesan, basa bunga telah mati,
telah mati di pantai sunyi.

Angin kini mati, di pantai kematian
kabar dari laut tiada bisa sampai ke pantai,
dan karangbatu yang tajam-tajam,
juga tiada bisa bikin nyanyi kembali.
Ataukah mesti,
bunga-bunga hanya mengabadi di kematian,
menunggu elang laut menyebarkan bibit-bibit baru,
di sini pagi juga masih jingga?

Kala angin telah mati-tiada kan berembus lagi
datang elang laut dan bunyikan nyanyi-nyanyi,
melanda tiap hati dan mati,
dan angin tiadakan berembus lagi……………..

umber: Majalah Mingguan Membimbing, Nomor 26 Tahun II,15 September 1954, halaman 17