Batu Belah, Hafney Maulana

Hafney Maulana

Batu Belah**
**
Batu belah batu bertangkup
Batu di batu
Syahdan
Seorang janda tua
Dengan tiga anaknya
Di pinggir desa
Hidup susah miskin kedana
Anak degil, susahkan
Maknya

Tersebut dalam suatu cerita
Telur temakul
Awal bencana
Habis dimakan anak-anaknya
Tak sedikit pun disisa
Hati mak teriris luka
Pedih rasa
Pedih sembilu
Anak durhaka lupakan maknya
Kerja pagi, petang dan malam
Tak disisa telur temakul
Barang sececah, secubit sudah

Syahdan
Mak pergi membawa luka
Tegakkan hati
Tinggalkan anak
Ke hutan di tepi sungai

“Wahai batu belah batu bertangkup
Telan aku sebatas kaki”
Ngap ngap
Batu terbelah
Menelan sebatas kaki
Aduhai nasib aduhai malang
Mak terkulai, membawa pedih
Luka di hati

“Wahai batu belah batu bertangkup
Telan aku sebatas pinggang”
Ngap ngap
Batu terbelah
Menelan sebatas pinggang
Aduhai nasib aduhai malang
Mak terkulai, membawa pedih
Luka di hati

“Wahai batu belah batu bertangkup
Telan aku sebatas habis
Kesalku hilanglah sudah
Arang habis besi binasa
Ke bawah tidak berakar
Ke atas tidak berpucuk”
Ngap ngap
Batu terbelah

Menelan habis, sisakan rambut
Panjang terjuntai
Melambai-lambai

Batu belah batu bertangkup
Batu di batu
Air menetes
Tangis menangis
Kesal anak tak sudah
Maaak …
Teriak sampai ke langit

Anak durhaka membantah perintah
Bukan sumpah bukan serapah
Sedalam laut setinggi gunung
Ke atas tidak berpucuk
Ke bawah tidak berakar
Jangan dibuang badan sebatang

Tembilahan, Negeri Seribu Parit, 2017

*(Batu Belah, cerita rakyat Melayu Indragiri Hilir)

Hafney Maulana

Batang Tuaka

Elang berkulik
Tengah hari
Maaak …maaak …
Tangis
Kesal
Tak bersudah
Durhaka
Pada mak
Sebab harta

Berlimpah
Kapal besar
Rumah besar
Begini
Asal muasal
Syahdan
Tuaka nama diberi
Gubuk tua

Saksi
Pinggir sungai
Muara sayang
Kasih mak sepanjang jalan

Kembara Tuaka
Ke Tamasik
Nakhoda kaya
Istri jelita
Syahdan terdampar
Di kampung halaman

Mak rindu seorang
Berat memikul sepi
Tuaka
Semata wayang
“Tuaka anakku. Emak merindukanmu”
Teriak emak dari pinggir sampan

Malu mendekap
Emak seorang
Hilang kasih, hilang sayang
“Hei penjaga, jauhkan wanita tua
Dasar orang gila, berani dia mengaku emakku”

Suara lantang
Menggelegar
Kilat dan petir
Sahut-sahutan
Emak diam

Lepas genggam di tangan
Pedih hati pedih sembilu
“Oh Tuhan, ampunkan anakku, telah
Durhaka padaku”
Bukan sumpah
Bukan kutukan
Tuaka berubah
Jadi elang
Elang berkulik
Putar memutar
Tangis air mata
Menganak sungai
Tembilahan, Negeri Seribu Parit, 2017

*(Batang Tuaka, cerita rakyat Indragiri Hilir, asal mula sungai Batang Tuaka)