BANGSAL CEBONGAN, A. Zainuddin Kr

A. Zainuddin Kr

BANGSAL CEBONGAN

pukul nol nol seperempat
malam membeku
uap embun menjelma batu
bara api menjilat ekor kelelawar
dalam gelap
seperti kilat kilat tembaga dimuntahkan
peradaban terkapar di bangsal cebongan:
amis darah, aroma bangkai dan asap sampah
kuhap kian sengau makin parau
mengeja dirinya sendiri
menjelma patung dan arca arca
tegak menghias diantara taman taman
pariwisata


230312

A. Zainuddin Kr

KEPADA KAWAN

Kawan, hari ini begitu gaduh
Perjalanan belum separo
Di depan sana, kendaraan saling bertubrukan
Seperti cemeti di lecutkan
Ledakan demi ledakan merobek awan
Memecah karang bebatuan
Menciptakan aneka limbah:
Diare, influinza, kolera dan besi tua
Mengonggok di genangan sisa banjir
Kemarin petang
Kawan, saat ini sulit sekali kita berteduh
Rumah-rumah, gedung-gedung longlai
Sedang belukar dan hutan pun tinggal
Hewan-hewan buasnya saja
Kawan, kau tau, lesus datang kian bertubi
Makin menjadi
Belakangan, sarung dan peci seorang kiai digulung
Beliung
Rambut dan janggut dililit
Akar trembesi


Pekalongan, 0213.