Balada Wurawari Ibu Pertiwi Kerajaan Medang Kemulan 1016 M,M. Abdul Roziq

M. Abdul Roziq

Balada Wurawari Ibu Pertiwi
Kerajaan Medang Kemulan 1016 M

1)
Lebih baik mengencingi pohon
daripada mengencingi sesama.
2)
Daripada mempersembahkan sapi
lebih baik mempersembahkan Raja Kaya.
3)
Berdasarkan poin pertama dan kedua
memohonlah agar dibimbing oleh-Nya
Sehingga berhasil menjadi Raja Kaya
tanpa harus mengencingi sesama
Maka anda adalah persembahan-Nya.
Di wilayah Kalingga tiga poin di atas
disebut Strata Kartikasinga. Kalingga
dengan spirit Pandawa menerapkan
Strata Kartikasinga untuk mengkritik
Kurawa, serta menghimbau Kurawa.
Supaya tidak bangga dan pongah
hanya karena memiliki seekor gajah.
Bukan karena Kalingga takut gajah,
sebaliknya itu adalah wujud komitmen
Kalingga terhadap populasi gajah.
Tetapi betapapun telah diperingatkan
berkali-kali, Kurawa selalu saja
gagal paham dan tidak mengerti,
untuk itu kami mundur dari Mahapralaya.
Kami tidak ingin masa depan berkata:
Ada pengembara asal Kalingga
Yang meladeni laga tidak seimbang.


Setelahnya ia pergi ke arah selatan
ke sebuah negeri yang malang
Di sana ia menjadi pendatang
untuk mengunjungi Ibu Pertiwi
yang kesepian
Lalu berdirilah ia bagai Ken Arok
berdiri mengibarkan panji-panji
ke dalam dada Ibu Pertiwi:
Cincin kawin Bimasakti
Jari-jari pandan duri
Cincin kawin Adisakti
Kutu bumi mengelam biji
Cincin kawin emas murni
Busur bulan memanah bumi
Kuikat napasmu dengan ini
Meminang hidupmu untuk kusemati
Aksi reaksi terjadi di dalam hati
mempengaruhi tubuh Ibu Pertiwi
Lihatlah! Ia sudah seperti rumah
Rubuh disentuh angin ramah
dan pendatang itu tampil
sebagai pahlawan
Yang trampil menawarkan bantuan:
Bila bumi menyentuh langit
dengan bukit-bukit
Keibuanmu membuatku naik
ke puncak-puncak bukit
Menyibak kegelapan
sebagaimana matahari
yang terbit malam-malam
demi menyelamatkan Sumbi
dari kebinatangan nafsu birahi
Demikianlah pada akhirnya
Ibu Pertiwi pun lengket
duduk mendekap pangkuannya:
Auma, kini kumengerti rasanya
menjadi singa betina Afrika
Pantaslah bila mereka giat
berjalan dengan buruan
untuk mencukupi kebutuhan
Karena singa jantan kekasihnya
betul-betul kebesaran mahkota
selain tidur-tiduran
keahliannya hanya kawin belaka
O, Ibu Pertiwi yang malang
seakan disuntik kekuatan
tatkala diperkuda
Oleh pendatang pujaannya
pengembara asal Kalingga
Lantas dari kegagalan
ia bangkit meradang-radang
melampiaskan penderitaan
bagai Srikandi di medan perang:
Oh Ya Kalyara Ya Bala
Berkitir dunia di dua roda
Melokananta tulah pepuja
Mahatera!
Seluruh penjuru masa
Adalah ada di dalam satu dharma
Untung pendatang itu mengerti
keadaan psikologis Ibu Pertiwi
janda yang sedang ia kawini
Ia relakan punggungnya
dicakar-cakar kuku macan
hingga gambaran Dewa Brata
Muncul dengan punggung terluka:
Wahai sejarah
mungkinkah
bagi masa depan
untuk ziarah
sehingga percintaan
tak dimaknai
melainkan demi
kehidupan itu sendiri?
Mungkinkah tereja
tanah air leluhur
negeri nan makmur
di mana lelaki
menanam pisang
di sana perempuan
menyodorkan kacang
sebagai wujud percintaan?
Mungkin jawaban dari pertanyaan itu
adalah tidur pulas
Usai bercinta mewarnai yang ada.
Bojonegoro, 27 September 2021