Bahtera Kencana Sovian Lawendatu

Sovian Lawendatu

Bahtera Kencana

Bocah itu berlayar dengan bahtera kencana membelah sungai yang semakin pasang oleh banjir bandang yang datang dari hulu peradaban kuna era Noah.
Mereka telah tebang pepohonan hingga rimba tandus untuk proyek pembangunan, katanya sambil terus mengayuh dayung dengan daya garuda seperti yang dilihatnya tersemat di dada para pembesar negeri.
Bahteraku sarat muatan: segala jenis binatang, halal dan haram.
Sejenak ia mendongak: keleneng lonceng gereja memecah senyap membuat ia ingat cerita yang langsung dia simak dari Kakek Noah:
“Yang kubuat dulu itu gereja, ‘Nak,” kata Kakek Noah.
Dahi bocah itu berkernyit. Ia tak mengerti hakikat.
“Gereja tanpa lonceng, Kek!”sergahnya.
“Tapi ada merpatinya toh, Nak?”, bisik kakek Noah. “Merpati itu enggan kembali setelah air bah benar-benar surut,” imbuh sang kakek.
Bocah itu terkesima. Spontan matanya menatap burung-burung kertas yang dibuatnya bertengger di tiang layar bahteranya.
Lalu ia melanjutkan perjalanan bahteranya di sungai itu.
Ketika tiba di hulu, ia melabuhkan bahteranya, persis di puncak sebuah gunung yang ia tak tahu namanya.
Ia memandang ke bawah. Tampak air masih bergemulung. Tak ada tanda kehidupan.
Baru setelah genap empat puluh hari, ia merasa lega.
Ia melepas seekor gagak yang dibuatnya dari kertas. Gagak itu berterbangan kian kemari lalu kembali ke bahtera.
Seterusnya ia melepas tiga merpati dari kertas secara bergilir. Dua merpati yang dilepasnya terdahulu juga kembali ke bahteranya berkat tuntunan angin.
Yang tak kembali pasti seekor merpati yang dilepasnya terakhir.
Ia bersorak. Persis seperti kisah Noah, gumamnya bangga.
Lantas dibukanya semua pintu dan jendela bahtera. Semua jenis binatang turun dari bahtera itu dan memulai kehidupan baru.
Bocah itu pun turun. Sekilas ia melihat kelebat bayang Noah yang membentuk pelangi di ufuk timur.
“Kakek memang pelangi!” serunya sambil mengacungkan jempol ke arah bayang Noah. Sang kakek menyambutnya dengan senyum.
“Ya, akulah pelangi Tuhan,” seru Noah meyakinkan.
Ribuan tahun kemudian, sebuah tim peneliti kepurbakalaan menemukan bahtera milik sang bocah masih dalam keadaan utuh di puncak gunung itu.
Bahtera ini luar biasa. Bahannya sangat bersahaja, hanya dari pelepah pisang. Mungkin karena pepohonan — bahan baku bahtera— sebelumnya telah ludas ditebang.
Begitu rilis tim peneliti di sebuah kanal tivi.
Tentu saja banyak pemirsa yang tercengang. Selebihnya bimbang.
Kau pun bisa merasa, bahwa cerita ini berlebihan.
Bitung, 21 Juni 2026