Arifin Chairin Noer
Arifin Chairin Noer (10 Maret 1941 – 28 Mei 1995), atau lebih dikenal sebagai Arifin C. Noer, adalah sutradara teater dan film asal Indonesia yang beberapa kali memenangkan Piala Citra untuk penghargaan film terbaik, sutradara terbaik, dan penulis skenario terbaik.
Buku kumpulan puisinya, antara lain, adalah (1) Nurul Aini (1963), (2) Siti Aisah (1964), (3) Puisi-Puisi yang Kehilangan Puisi (1967), (4) Selamat Pagi, Jajang (1979), dan (5) Nyanyian Sepi (1995). Buku dramanya antara lain, adalah (1) Lampu Neon (1960), (2) Matahari di Sebuah Djalan Ketjil (1963), (3) Nenek Tertjinta (1963), (4) Prita Istri Kita (1967), (5) Mega-Mega (1967), (6) Sepasang Pengantin (1968), (7) Kapai-Kapai (1970), (8) Sumur Tanpa Dasar (1971), (9) Kasir Kita (1972), (10) Tengul (1973), (11) Orkes Madun I atawa Madekur dan Tarkeni (1974), (12) Umang-Umang (1976), (13) Sandek, Pemuda Pekerja (1979), (14) Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi I (1984), (15) Ari-Ari atawa Interograsi II(1986), dan (16) Ozon atawa Orkes Madun IV (1989). Selain itu, sebagaimana disinggung di atas, ia juga menyutradarai banyak film dan sinetron serta menulis skenarionya, antara lain (1) "Pemberang" (1972), (2) "Rio Anakku" (1973), (3) "Melawan Badai" (1974), (4) "Petualang-Petualang" (1974), (5) "Senyum di Pagi Bulan Desember" (1974), (6) "Kugapai Cintamu" (1976), (7) "Kembang-Kembang Plastik" (1977), (8) "Suci sang Primadona" (1978), (9) "Harmoniku" (1979), (10) "Lingkaran-Lingkaran" (1980), (11) "Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa" (1980), (12) "Serangan Fajar" (1981), (13) "Pengkhianatan G.30 S/PKI" (1983), (14) "Matahari-Matahari" (1985), (15) "Sumur Tanpa Dasar" (1989), (16) "Taksi" (1990), dan (17) "Keris" (1995).
Sumber: https://ensiklopedia.kemendikdasmen.go.id/sastra/artikel/Arifin_C_Noer | Ensiklopedia Sastra Indonesia - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Pertemuan dengan Seorang Pengemis
Pembicaraan kita pembicaraan sunyi
antara hati dengan hati
Malam menutupi wajah kita yang sedih
Tanpa pamit mentari di barat pergi
kotoran-kotoran hitam di jalanan
beterbangan
jatuh
dan dilupakan
Burung-burung gereja bertengger
pada atap kelabu gedung-gedung
lalu beterbangan
jauh
dan menghilang
Di atas teras toko cina seekor anjing betina
tegang hitam berdiri
dan mengancam
Kita saling berpandangan
Saling bertanya-tanya
Sunyi mengikat kita
dengan pembicaraan-pembicaraan rahasia
Tanah lapang yang lengang
Bulan di atas menghina
dengan keanggunannya yang memabukkan
Di bawahnya kita saling merasa heran
Adakah akan terjadi lagi suatu pertemuan
yang serupa ini?
Sunyi.
(Tiba-tiba terperanjat oleh satu firasat
Betapakah seandainya ia adalah Tuhan yang menjelmakan diri-Nya
sebagai seorang insan yang melarat?)
Sumber: Horison (Desember, 1966
Hujan Akhir Tahun
menjelang ulangtahun yung
Hujan akhir tahun yang tipis
bagai layar sutera yang diturunkan
Lewat jendela kita memandangnya
tertegun menyaksikan kehilangan-kehilangan
selama ini. Angin yang menyertainya
bagai epilog yang khidmat diucapkan
Lewat celah dinding kita merasakannya
gemetar menghadapi perhitungan-perhitungan
Terasa rakhmat jualah yang disebarkan
Butir-butir kesegaran bibit segala peristiwa
dan nasib. Terasa juga kesejukan
Air yang menetes bagai airmata seorang ibu
yang melambai-lambaikan saputangannya. Tuhan
tengah memandikan Yogyakarta kita
dengan hujan yang lembut
yang ditebarkan langit pualam yang mewah
Bersyukurlah!
Berjatuhan serupa jarum-jarum cinta yang alit
menusuki dada bumi. Bocah-bocah merasa geli
maka mereka berteriak-teriak kesenangan
Sedang daun-daun pun segera saja melepaskan
debu-debunya
Hujan kali ini bagai kata-kata percintaan
yang mesra diucapkan Tuhan
dalam amanat akhir tahun
dan kita khusyuk menunduk mendengarkannya
Lewat jendela terbuka
tampak burung-burung pun tengah mencuci bulu-bulunya
Hujan turun perlahan-lahan dan sangat hati-hati
menyirami bumi ini, hati ini
Bagai kata-kata perpisahan dari seorang sahabat
yang sedih
dalam suatu upacara penguburan.
10 Desember 1965
Sumber: Horison (Agustus, 1968