Antologi tak bisa menolong pulang, batu akik bisa menolong pulang
Kisah Penyair:
Antologi tak bisa menolong pulang, batu akik bisa menolong pulang.
Bersiap siap besok mau pertemuan penyair di Jakarta. Kala itu 2010 aku bawa buku antologi kebanggaanku yang cukup terkenal aku bawa sebanyak 10 eksemplar dan sekitar 20 batu akik untuk dibagikan bagi yang mau membeli buku antologi.
Cincin berbatu akik dibawa bukan untuk dibagi tetapi untuk hadiah, barangkali di tempat kegiatan ada yang mau beli antologi, maka aku kasih hadiah sebuah cincin berbatu akik, yang murah tapi pada saat itu lagi boming batu akik.
Karena asyiknya berkegiatan sastra sampai lupa menawarkan antologi pada temanku. Hingga pulang sampai terminal bus ternyata uangku tak cukup untuk membeli tiket.
Aku clingak clinguk diterminal sambil merogoh rangsel ternyata tak ada uang selain antologi dan cincin batu akik.
Akhirnya aku duduk menjauh bus yang menunggu penumpang untuk berfikir agar bisa pulang. Ada hp cuma merek jelek yang mau habis pulsanya. Aku rogoh sekali lagi ransel dan aku keluarkan semua isi yaitu 10 buku antologi dan batu akik.
Sambil berfikir mengira-ngira siapa siapa yg bisa dimintai tolong. Di Jakarta ini ada beberapa saudara tetapi ada rasa tak mau menyusahkan. Sepintas juga nama teman tetapi resiko bila ke tempatnya belum tentu bertemu.
Sambil bersandar aku keluarkan antologi yang masih utuh itu. Dan 20 batu akik yang juga masih utuh. Saya tumplek rangsel itu untuk memastikan barangkali ada lenbaran uang terselip. Hingga bunyi gemerincing cincin batu akik di lantai. Saya malu segera saya pungut batu akik dan ditaruh di lantai keramik yang merupakan tempat duduk.
Tentu saja bunyi gemerincing itu membuat orang yg agak dekat menoleh padaku. 2 orang yang agak tua dan anak muda mendekatiku sambil mengambil cincin berbatu akik yg lagi aku kumpulkan.
" dijual mas?" Katanya,sambil memberikan batu cincin milikku yg menggelinding . Aku mendongak dan menggeleng sambil menjawab, "enggak mas" .
"Oh barangkali dijual" kata orang itu ambil jongkok di hadapanku untuk melihat batu cincin yang lain. Seorang lagi yang tadi mendekat kemudian ikut duduk sambil melihat-lihat batu cincin yang aku kumpulkan menjadi satu.
"Ini batu apa mas?" Seorang bertanya.
"Klawing" kataku .
Melihat orang-orang itu secepat pikiranku apakah orang orang ini bisa menolong atau hanya sejedar bertanya. Kemudian aku memperlihatkan buku antologi. "Ini yang saya bawa" kataku.
Orang itu hanya melihat buku dan mengambil batu cincin yg lain.
"Kalau dimahar berapa mas kawinnya batu ini?", kata orang tua yang rada gemuk tiba-tiba.
Mendengar itu seakan suara dewa penolong. "Terserah Bapak aja, batu ini sebetulnya tidak dijual"
"Loh kenapa?"
"Batu biasa Mas," kataku, kemudian "untuk hadiah yang beli buku ini" , sambil memperlihatkan tumpukan buku.
Anak muda yang sejak tadi berdiri kemudian berkata, " Saya ambil dua ngikut Bapak."
"Lima puluh ribu ya!" , saya yang ini.
Mendengar jumlah itu aku langsung kaget
. Tiket bus Indramayu hanya 85 ribu. Sudah cukup dengan ditanbah jumlah uang di dompet. Tak pikir panjang saya menjawab " Silahkan Pak, terima kasih.
Orang itu memasang cincin batu akik di jarinya kemudian merogoh saku. Uang lima puluh ribuan diberikan padaku. Saya langsung menerima uangnya dan mengambil dua batu akik yang untuk diberikan pada Bapak yang membeli itu sebagai tanda terima kasih.
"Ini buat Bapak untuk kenang-kenangan kataku." Bapak yang gemuk itu keheranan sambil menerima batu akik pemberianku. Lalu aku masukan semua cincin batu akik dan buku dalam ransel.
"Saya juga," kata Bapak yang tua satunya.
Ya, saya ikut ini uangnya kata anak muda itu, "Dapat 3 ya mas?" lanjutnya sambil memilih batu akik.
Tanganku menerima uang 2 lembar lima puluhan ribu. Kubiarkan mereka memilih batu akik.
Setelah itu aku masukkan batu akik dan buku di ransel dan siap-siap mencari bus jurusan Cirebon.
Ternyata Bus Sinarjaya jam 2 baru tiba di Stasiun aku pun merogoh kantong memastikan 3 lembar lima puluhan untuk ke warung makan.
Ketika lagi makan, terlihat di luar warung bapak yang gendut itu, mungkin kondektur sebuah bus, menunjuk- nunjuk memberitahu temannya ke arah aku yang lagi makan diwarung.
Di bus Sinarjaya jaya aku berterima kasih pada Tuhan yang telah menolongku. Kurogoh rangsel kumal yang aku kalungkan hanya tersisa Buku Antologi.
Dalam hatiku, walau antologi ini tak laku dijual kalah dengan batu akik tapi 10 buku antologi ini hebat juga bisa ikut jalan-jalan ke Jakarta dan akan kembali bersama antologi lain dijajar di lemari buku .
---Tamat --‐
(Rg Bagus Warsoni 22 Maret 2026 kenanganku sebagai penyair)