ANAK-ANAK PEWARIS, A.Rahim Eltara (038)
A.Rahim Eltara
ANAK-ANAK PEWARIS
Seperti di subuh lain,
saat embun turun tahta.
Sesudah salam menyalami alam,
anak-anak bergegas melipat mimpi.
Sepasang kerbau merumput,
di bawah bulan yang berlayar pulang.
Siap menarik bajak sebelum matahari
menoreh sajak gersang, pada kanvas sawah garapan.
Anak-anak riang bersama kuncup pagi,
memecahkan mata embun di mata kaki,
mengubur impian tentang seragam putih merah,
tentang merah putih dikerek dengan cinta,
menuju puncak cita-cita,
diiringi lagu kebanggaan kebangsaan.
Petak-petak sawah menjelma gedung-gedung inpres.
Ruang-ruang kelas yang riuh, tanpa perabot,
tanpa guru yang digugu dan ditiru.
Tanah warisan bagai lembaran kitab mukjizat. Seperti halaman-halaman buku Sapardi mewariskan tutunan cinta sejati.
Mereka belajar mengeja impian. Peluhnya menulis silsilah nenek moyang,
lalu diterawang pada matahari,
menghangatkan abu ingatan pada simpul petuah ibu.
Mereka tumbuh bagai kuncup kembang di ayunan angin. Mereka belajar
dari aroma tanah dan isak hujan. Mereka pun
sehati dengan alam. Tempat ari-ari
ditanam dan disemedi, sebagai penjaga api martabat leluhur,
sebagai pengingat lupa pada tanah kelahiran.
Sebagai pewaris adat dan tradisi tanah intan bulaeng.
Sumbawa, 17 Oktober 2025
*
*A.Rahim Eltara, lahir 16 Oktober 1962. Telah menulis 4 antologi tunggal : Kepak Sayap Rasa (2011), Ladang Kekasih (2018), Air Mata Zikir dan Sebening Mata Air Cinta (2023), Ibu Doa dan Cinta (2024), dan 103 antoligi bersama.
*